Layaknya gunung, hidup akan senantiasa membuat kita kotor. Jangan lupa membersihkan diri. Bukan hanya raga, tapi juga hati. Maaf untuk segala buruk yang pernah saya perbuat, dan segala baik yang belum saya lakukan.
Sabtu, 03 September 2022
INDAHNYA JALUR TIMUR MENJEMPUT MATAHARI FAJAR DALAM PENDAKIAN GUNUNG MERBABU
INDAHNYA JALUR TIMUR
MENJEMPUT MATAHARI FAJAR
DALAM PENDAKIAN GUNUNG
MERBABU
(NB : MOHON TEMAN2 TIDAK LEWAT JALUR INI, TAATI PERATURAN, CUKUP SAYA SAJA, PAK MANJI HANYA BERTUJUAN BERCERITA AGAR KALIAN TIDAK PENASARAN )
vProlog
Puncak Syarif
Gunung Merbabu dengan ketinggian 3157 Mpdl. Terletak di Kabupaten
Magelang, Boyolali, dan Salatiga, Jawa Tengah. Secara administratif gunung ini
berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten
Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan, Kabupaten Semarang di lereng
sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Merbabu adalah gunung api (dalam
kondisi tidur) yang bertipe strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS
dan 110,4° BT.
Gunung Merbabu dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan.
Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh
Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal
dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (=debu).
Dengan demikian, gunung Merbabu adalah gunung abu. Maka, bisa ditafsirkan,
gunung ini merupakan gunung berapi yang sering mengeluarkan abu. Atau malah
gunung yang sering tertutup abu oleh semburan dari material gunung tetangga
(Gunung Merapi). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.
Gunung ini mempunyai 7 puncak yang cukup menawan. Mulai dari
Trianggulasi, Kenteng Songo, Ondo rante, Geger sapi, Puncak Syarif, dan
Pemancar. Tidak hanya puncaknya yang banyak melainkan, titik pendakiannya pun
juga banyak kurang lebih ada 7 jalur yang bisa kamu pilih. Diantara 7 jalur
tersebut 6 jalur merupakan jalur yang sudah terkenal. Tetapi, ada satu yang
kurang terkenal. Tetapi, di jalur ini kami akan mencoba untuk memulai pendakian
yaitu Timboa. Penasaran apa saja yang akan kamu temui di sini, Mari kita
lanjutkan pendakiannya berikut ini.
SOBAT MANJI
JANGAN LUPA MAMPIR DAN SAKSIKAN VIDEO PERJALANAN KITA DI TIMBOA. SALAM MANJI...
MANTAP JIWA....
UNTUK VIDEO PART 1 =
UNTUK VIDEO PART 2 =
vBagian
PEMBAHASAN
ØJalur
Pendakian Timboa
Gunung
Merbabu via Timboa merupakan jalur pendakian dari lereng Merbabu sisi timur
laut. Berada di antara kota Boyolali dan Salatiga. Base camp pendakian
beralamat di Dusun Margomulyo, Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel Kabupaten
Boyolali. Base camp berada di rumah salah satu penduduk. Menurut informasi base
camp dikelola oleh karang taruna di bawah koordinasi dari Mas Gadek. Base camp
merupakan rumah penduduk. Sebenarnya, jalur ini bukan jalur resmi dari TNGM
(Taman Nasional Gunung Merbabu). Jalur ini adalah jalur para peziarah yang akan
napak tilas kisah Mbah Syarif. Dengan demikian, adanya jalur ini adalah demi
menampung kepentingan para peziarah yang akan melakukan perjalanan rohani.
Jalur
ini sudah cukup tua (ancient rute). Sebagaimana diceritakan oleh penduduk
setempat, jalur ini pun tidak ada yang tahu persis adanya dimulai semenjak
kapan. Yang jelas, jalur ini akan ramai pada hari-hari khusus, misalnya
menjelang malam satu Suro (malam tahun baru penanggalan Jawa). Kendati jalur
ini masih merupakan jalur peziarah, pihak dusun mencoba memberi papan-papan
petunjuk di beberapa titik. Hal ini dilakukan demi meminimalisir adanya korban.
Mereka berharap jalur ini bisa berkembang menjadi salah satu destinasi wisata
desa. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan warga terutama yang tinggal di
sekitar base camp.
Sejauh
aku amati, papan penunjuk jalur cukup jelas dan banyak. Bahkan juga sudah ada
pos-pos perhentian, sebagaimana jalur pendakian pada umumnya. Jalur pendakian
via Timboa ini langsung mengikuti satu punggungan dan tidak bertemu dengan
jalur pendakian lainnya. Jalur ini langsung menuju Puncak Syarif. Menurutku
karena ini bukan jalur resmi dari TNGM dan merupakan jalur peziarah yang banyak
memiliki nilai historisnya sebaiknya digunakan sebagaimana mestinya.Bagi sobat pendaki atausobat petualang yang tidak memahami,tidak mau mengerti, dan tidak mau menghormati
kearifan lokal juga agama asli, sebaiknya tidak mencoba jalur ini.
BC Timboa, tampak pintu depan
Bertemu Mas Boy
Dek Ahmad
Berkenalan juga dengan warga
Berkenalan dengan Mas Jati
Fasilitas MCK
ØTransportasi
Menuju Base Camp Merbabu via Timboa
Secara
umum, base camp pendakian dapat dicapai dengan mudah bila menggunakan moda
tranportasi pribadi. Sebaiknya tidak mengandalkan transportasi umum (karena
pasti akan mengalami kesusahan/ kesulitan). Waktu aku mendaki bertemu satu
pasangan dari Boyolali yang memakai kendaraan bermotor dari Boyolali. Aku sendiri menggunakan mobil pribadi pak Boy. Untuk bisa sampai base
camp, secara pribadi aku banyak dibantu oleh Mas Jati salah satu teman pendaki
ketemu/janjian di BC. Beliau dengan senang hati memandu untuk bisa sampai di
sana. Atau bisa juga menghubungi pihak pengelola base camp (085740004320).
Bersama
3 orang teman ( Mas Boy, Ahmad Roti dan Chef Jati ) kita melangsungkan
perjalanan Merbabu jalur TIMBOA pada hari Sabtu – Minggu tanggal 30-31 Juli
2022. Hari Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB, kami kecuali mas Jati yang
sudah di BC duluan, kami sampai di BC. Dari kota Solo pinggiran kumulai
ekspedisi ini. Bertiga kami melaju dengan kendaraan pribadi menuju arah barat,
Ampel, Boyolali. Sesampainya di jembatan kembar, kulihat ada plakat bertuliskan
arah desa Ngadirojo. Maka kami belok ke arah kiri. Usai melewati jembatan,
kulihat di sisi kanan ada base camp Primapala, tetapi sepi. Niat hati mau
menggali informasi di sini, harus kandas, karena tiada orang. Akhirnya kami
sempatkan berhenti di depan toko kelontong kebetulan kami lapar malam itu ,
lumayan kemasukan jajanan dan roti. Dengan perjalanan malam yang mendebarkan
dikarenakan jalur jalan kampung yang kecil dan naik turun membuat kita ekstra
waspada, sempat nyali sopir ciut dikala bertemu kelokan yang tajam dan
membahayakan namun dengan tekad sejati kita akhirnya berhasil sampai di
Basecamp Timboa.
Sepi,
tidak ada siapapun juga kecuali mas Jati di BC. Kulirik arloji menunjuk waktu 23.30
WIB. Di pertigaan depan base camp, terlihat bekas guratan ban mobil kami yang
selip. Aku pun tak lupa ucap syukur sampai disini dengan selamat walaupun butuh
perjuangan.
ØMenuju
POS 1 – SIMPANGAN
Kita menginap di BC malam itu,
Setelah melihat situasi BC di pagi itu dan sempat mengobrol dengan beberapa
warga, kami persiapan pendakian setelah sarapan roti seperlunya. Tak lupa
berdoa meminta keselamatan untuk perjalanan ini dan dijauhkan dari binatang
buas ataupun hal-hal negatif lainnya. Sebelum berangkat sempat aku membuka buku
tamu/pengunjung, Kulihat di buku itu, memang jarang ada pendaki yang lewat
jalur ini. Dan Menurut informasi memang di kampung ini belum ada warung dengan
bangunan, yang kami temukan hanya rumah warga saja.
Kondisi dalam Basecamp
Berdoa sebelum berangkat
Awal pendakian
Kulihatbatas ladang sudah di depan mata. Kukobarkan
semangat 45 untuk tetap melangkah dan kutetapkan tekat untuk beristirahat di
sana. Benarlah perkiraanku, tepat 1 jam 30 menit selepas base camp aku pun tiba
di selter “Encuring Bancing”. Tempat yang cukup rimbun. Tetapi tempat ini tidak
cocok untuk mendirikan tenda. Kurang lebih sekitar 5 menit, aku beristirahat di
sini. Tempatnya rimbun, sejuk dan masih banyak pepohonan. Usai merasa cukup
beristirahat, kulanjutkan perjalanan. Mengikuti setapak yang lumayan besar dan
bagus yang ditandai dengan pipa saluran air bersih. Sepanjang jalur, hutannya
masih cukup rapat. Enak buat jalan. Menurutku, jalur ini adalah jalur yang
paling asik. 10 menit meninggalkan Encuring Bancing, akupun tiba di Pos satu,
“Simpangan”.
Jalur menuju ke Pos 1 masih berupa
jalur Makadam, dimana ladang-ladang warga menjadi sajian yang cukup menarik.
Banyak warga sekitar yang akan kamu temui, bila kamu mendaki pada siang hari.
Perjalanan menuju pos 1 kurang lebih 1 jam 50 menit. Kemiringan tanjakan di
jalur ini lumayan tinggi sekitar 45 derajat dan itu rata sepanjang jalur. Dan
setelah Pos Encuring Bacing kalian akan ditemani pipa besi sepanjang jalur
sampai dengan plakat POS 1. Tetap Butuh dengkul yang kuat ya hehehhe....
Di POS 1 ini kawan kawan ada sumber
air berupa kran air ya, dan saat kami disana mengalir jadi bisa digunakan untuk
suplai logistik perairan kalian.hehehhe. Pos ini lumayan cantik. Keren. Ada tempat
datar untuk mendirikan 2 tenda dome. Dekat mata air, juga bisa melihat air
terjun (khusus di musim hujan) di sebelah kanan. Pos ini dinamakan,
“Simpangan”, mungkin karena memang ada persimpangan. Arah kanan menuju air
terjun/ mata air yang dirawat oleh penduduk sebagai sumber air warga.
Disini saat, kita bisa beristirahat
sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 2. 30 menit aku menikmati
keindahan dari tempat ini. Suasana yang tercipta sungguh menyenangkan,
menenangkan dan membahagiakan. Kemudian kuteruskan langkah. Dari Pos 1 ini
pendaki harus belok ke kiri, naik menuju puncak.
Dedek Akira
Warga sekitar
Masih di jalan makadam
Mengobrol dengan warga di ladang
Pertigaan sehabis makadam
Pos Encuring Bacing
Pos 1 - Simpangan
Sumber air Kran di Pos 1
ØMenuju
POS 2 – PAMPONG SEGER
Usai
pos 1, keadaan setapak berubah total. Kita tidak dibawah rindang pepohonan,
setapak hilang tertutup semak. Tetapi syukurlah, bila di atasnya terdapat lebat
pepohonan maka setapak masih terlihat jelas. Sepanjang jalur ini medannya
paling landai dan masih asri karena hutannya yang masih rapat. Jarak juga tidak
terlalu jauh. Hanya di beberapa tempat, setapak telah hilang tertutup
semak-semak.Sekitar 60 menit, aku sudah
sampai di Pos dua, “Pampong Seger”.Jalur menuju ke pos 2, masih tetap landai
dan nyaman untuk dilintasi. Sayangnya saat musim kering, kamu akan disambut dengan
debu yang cukup mengganggu. Disini, areanya cukup luas, bisa untuk 3 tenda
sampai 4 tenda. Dan rindang juga sobat, sangat tepat dijadikan tempat mencok
sejenak menghilangkan penat badan, apalagi kalau waktu pendakian siang hari di
musim kemarau. Aku tidak berhenti
di pos ini. Setelah mengambil beberapa foto, dan ngevlog sebentar Aku pun
melanjutkan petualangan.
Menuju Pos 2 ambil kiri
Jalur Menuju Pos 2
Tiba di Pos 2 - Pampong Seger
Area Pos 2
ØMenuju
POS 3 – MAINAN
Sekitar
150 meter selepas pos 2, situasi masih sama. Lebat pepohonan dengan rindang
teduh cabangnya masih setia menemani perjalanan. Setelah itu, medan tantangan
menjadi sangat berbeda. Medan jelajah terbuka luas tanpa perlindungan. Hamparan
padang rumput setinggi dada telah siap menyambut. Rute seperti ini akan
menemani sampai pos 3 dengan track zig zag.
Namun
demikian, tidak serta merta jalur ini sebagai jalur penderitaan, masih nyaman
lah buat kami melewatinya. Di sela-sela kami berhenti, membuka mata dan hati
untuk menangkap pesona alam adalah kunci kesejahteraan hati karena siang itu
view lautan awan begitu cantik menyapa sepanjang langkah kita menuju POS 3. Di
sisi kanan ada jurang yang menganga tetapi menawarkan pesonanya, ada barisan
perbukitan dan padang rumput itupun juga dihiasi bunga rumput yang setia menari
manja membuat hati terkadang terdiam terpana.Serasa berada di adegan Sindhen wayang menyanyikan cengkok lidah
gemulainya...syuurr..... mantap jiwa.
Pada
akhirnya pada pukul 13.30 WIB kita menginjakkan kaki di POS 3 – Mainan 2. Kami
butuh waktu 90 menit untuk bisa sampai di Pos 3. Karena masih lumayan siang,
kita berteduh dan saling bercengkerama dengan cerita cerita jenaka, apalagi mas
Jati tipe pendaki tanpo prei bicara alias suka cerita, ya sudah tak terasa kita
tertelan dengan obrolan-obrolan gayeng hingga pukul 15.00 WIB. Sebelum gelap
kita dirikan tenda, disini berempat kita mendirikan tenda 3 biji. Mas Boy tenda
1P, Mas Jati tenda 1 P, Saya dan rekan Ahmad dengan tenda 2P. Di sela kami
menikmati jam sore, datanglah 2 pendaki pasangan sampai di Pos ini, setelah
kami mengobrol, mereka melanjutkan perjalanan, hemat kami mungkin mereka ingin
mendirikan tenda di Pos 5. Di pos ini, terdapat area camping yang cukup luas.
Tempatnya terlindung oleh semak-semak, bahkan seolah-olah area ini dipagari oleh
perdu. Udaranya cukup hangat, karena angin tidak langsung bebas lewat. Ada juga
banyak batang kayu kering sisa-sisa kebakaran, sehingga kalau dalam keadaan
darurat bisa membikin api unggun secara gampang. Namun perlu di ingat kontur
tanah kurang rata karena sudah ditumbuhi rumput ilalang yang lebat saat itu.
Dari
sudut tenda memandang, trek jalur terlihat jelas sampai menjelang puncak
(menurut info: itu adalah puncak banyangan/ pos 5, Watu Tumpang). Ditempat kita
mendirikan tenda, tempat kami bermalam menikmati udara dingin Timboa, suhu
terdingin sempat menyentuh angka 8 derajat celcius. Kesempatan ini, kami
gunakan untuk memulihkan tenaga dengan menikmati perbekalan. Dan ke esokan hari
sekitar pukul 06.00 WIB kita baru bangun. Sungguh udara semalam begitu menggoda
ketahanan tubuh, namun tetap kita usahakan lelap tidur.
Tepat Pukul 07.00 WIB
setelah semua persiapan summit selesai, kami start pendakian summit ke Puncak
Syarif, alhamdulillah recharge semangat berhasil, dengan begitu PeDe kami awali
langkah awal. Kami bangkit untuk
meneruskan petualangan. Medan setapak dari pos 3 ke pos 4, lumayan landai, juga
tidak terselubungi oleh semak-semak dan nyaman juga karena jalurnya dibuat zig
zag, dan ada juga jalur yang straight lurus namun dibutuhkan kualifikasi
dengkul racing untuk melewatinya. Sekitar 30 menit aku pun tiba di pos 4, “Ki
Hajar Sampurna”. Area ini hanya berupa setapak. Tidak ada tanda-tanda sebagai
tempat yang layak untuk mendirikan tenda. Mungkin sudah tertutup perdu dan
semak. Aku merasa badanku kian lemas. Tenagaku terkuras. Akupun berhenti.
Menghela nafas. Kutepuk-tepuk pipiku. Masih sadar. Masih waras.
Di kejahuan terlihat pantulan
sinar matahari yang membentur pernak-pernik pendakian. Setelah kuamati ternyata
pasangan pendaki yang naik ketemu kemarin. Kelihatannya mereka sudah turun, aku
menyimpulkan demikian karena ini pukul 09.00 WIB. Sambil menghela nafas,
kudongakan kepala mencoba menatap gundukan puncak PHP yang masih terlihat jauh.
Aku mencoba untuk menemukan kesegaran, tenaga dan berharap bisa mengurai
lelahku. Kucoba amati dan ternyata teman-teman sudah ada jauh di depan,
terutama si Ahmad mungkin saja sudah tiba di Puncak Pregowati.
Menuju ke Pos 5 kamu akan
disuguhkan dengan tanjakan dan tidak akan pernah berhenti. Di pos ini kamu
sudah sampai di Sabana. Sebuah padang yang luas. Puncak tinggal sebentar lagi. Tetapi,
kami tidak menemukan plakat yang menuliskan bahwa disini Pos 5. Jalur yang
dibuat zig-zag, dengan beberapa titik setapak untuk potong kompas sangat
membantu kelancaran perjalanan. Aku beberapa kali mengambil jalur potong kompas.
Sehingga membuatku memperpendek jarak dengan teman-teman di depan. Sambil
mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, pandanganku tertuju pada pohon
kantigi yang agak besar dan rindang. Segera kugali sisa-sisa tenagaku untuk
segera sampai di situ. Ternyata mas Boy sudah menungguku, karena kepeduliannya bahwa
satu botol minumanku dibawanya, Saatnya istirahat dan menikmati perbekalan.
Setelah berjalan 2 jam 30 menit
dari Area Camp, sampailah kita di puncak Pregowati, disini saya sudah ditunggu
Mas Boy dan Mas Jati, kalau si Ahmad sudah gass duluan. Menikmati udara dingin
yang perlahan sudah mulai menerpa. Dari titik ini seperti kita berjalan di
punggungan sapi atau geger sapi semacam itulah. 10 menit berjalan kita sampai
yang namanya Jembatan Sirod.
Jalur menuju Pos 4, suket besti
Pos 4 - Ki Hajar Sampurno
Sabana menuju Puncak
View Pagi Menuju Pos 4
Awal summit
Bertemu pendaki couple sore hari
Tenda Mas Boy
Tenda Mas Jati
Tenda Pak Manji
Ngobrol sambil rehat di Pos 3
ØMenuju
Jembatan Sirod , Summit Puncak Syarif
Di
jalur pendakian Timboa kamu akan menemukan Jembatan Sirod. Dimana, jalur yang
harus kamu lalui adalah sebuah jurang dan jalur yang hanya cukup untuk satu
orang, treknya naik dan turun. Kesulitannya adalah jurang yang terlihat
menganga dan bayangan kalau jatuh bagaimana. Pada kenyataannya Jembatan Sirod
Timboa ini tidak terlalu berbahaya untuk dilewati. Namun saat kaki melangkah
ada rasa berbeda yang terjadi, ntah apa rasa itu kadang terlupa oleh lelah yang
melanda. Sobat Manji, tetap harus berhati hati dalam melangkah.
Dari
tempat ini kulihat lereng merbabu dengan maha luasnya sabana yang seolah tiada
bertepi. Terlalu indah untuk dikisahkan. Sekitar 10 menit aku beristirahat di
puncak si Abi salah satu puncak yang kita temui dari jalur Timboa. Kurasa
tenagaku telah pulih. Akupun bangkit, dan mulai berjalan lagi. Tidak berapa
jauh aku meninggalkan tempat istirahatku, kulihat bayang manusia seperti bentuk
dari sosok bidadari dan benar ternyata seorang wanita cantik berdiri agak jauh
dari kerumunan puncak Syarif, ku dekati dan kuajak ngobrol namanya Kak Nidia
asal Jakarta kalo gak salah. Wadiiidaw,,, manis banget senyumnya braaiii.....
hehehheh
Kulirik
jam tanganku dengan senyum ia menunjuk angka 11.00 WIB. Mungkin butuh 3 jam 20 menit dari Pos 3 menuju puncak Syarif ini,
pemandangan yang disuguhkan sangat bagus, luar biasa. Adanya cuma kata, “Istimewa”.
Rasa syukurku tiada terkira, bahwa aku masih bisa menembus petualangan bersama
teman-teman yang solid. Aku duduk di bawah pohon kantigi menikmati sejuk udara
gunung dengan panorama alam yang terbentang seolah tak bertepi. Tak berapa jauh
puncak Kenteng Songo dan Triangulasi melambai-lambai untuk disambangi. Tetapi
aku tidak tergoda, mengingat bahwa beberapa bulan lalu aku baru saja dari sana.
Namun, Kalau kamu mau pergi ke Puncak Kenteng Songo, kamu bisa menuruni lembah
dan menanjak naik menuju ke Kenteng Songo dan Trianggulasi. Waktunya hanya 30
menit. tetapi, tetap hati-hati ya
Sekitar
satu jam aku sungguh-sungguh memuaskan diri untuk mereguk makanan jiwa dari
keindahan alam Merbabu. Dari puncak Syarif ini, kunikmati bersama sahabat
pendaki dengan cara yang bervariasi.
View Istimewa Menuju Puncak
Berjumpa Pendaki yang kemarin
Kemungkinan Pos 5
Kemungkinan Puncak Pregowati
View dari Puncak Pregowati
melewati Jembatan Sirod
Masih Jembatan Sirod
Puncak SIABI via Timboa
Bertemu kak Nidia ( manis puol senyumme )
Bidadari Puncak Syarif
Makam Mbah Syarif
Puncak Syarif
Keindahan dari Puncak
Situasi Puncak Syarif
Jauh terlihat Puncak Kentengsongo dan Triangulasi
ØPerjalanan
Turun
Dalam perjalanan turun ini ku
terus berjalan, tidak berhenti dan bahkan sempat beberapa kali terpeleset.
Kurasakan lututku kian kelu. Rasanya ngilu. Setelah tiba di Area Camp Pos 3,
menikmati makan dan minum, lanjut packing dan Tepat Pukul 14.00 WIB kita
langkahkan kaki meninggalkan area camp. Istirahat sejenak di pos 1 untuk
menghabiskan perbekalan dan menyisakan setengah botol kecil air minum
(perbekalan terakhir). Kembali aku melaju hingga tiba di BC Timboa sekitar
pukul 17.00 WIB. Setelah bebersih di BC, kami meninggalkan base camp dan menuju
rumah (Solo).
Perjalanan turun dari puncak
Terlihat Elang jawa mencari mangsa
Disambut lautan awan
Lautan awan yang elok
vBAGIAN
PENUTUP
Pada Perjalanan Merbabu via Timboa
kutemukan kami bukanlah apa-apa. Tidak ada yang layak aku sombongkan. Di atas
langit selalu ada langit. Selalu ada orang-orang hebat (yang tentu memiliki
kekurangan). Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Ada kelebihan
di satu sisi, tetapi tentu juga ada kekurangan di sisi lainnya. Kusadari bahwa
aku harus terus menempa diri agar menjadi semakin baik dan terutama menjadi
semakin rendah hati. Terimakasih Merbabu, padamu aku boleh mereguk kesejukan
hati, kedamaian jiwa dan kelegaan rasa. Semoga karunia bahagiamu, membawaku
untuk semakin berani bersandar pada Sang Pemberi yang utama. Biarkan jiwaku
sementara berbaring dalam dekap hangatmu. Terimakasih untuk semua orang yang
aku jumpai dalam petualangan ini. Biarkan senyum ketulusan itu mengalir dan
menjumpai semakin banyak orang. Terimakasih untuk Mas Boy, Mas Jati dan Ahmad untuk
menemaniku menimba damai dan tenang di kesunyianmu, Merbabu.
Gunung Merbabu Via Timboa menjadi jalur
pendakian yang menarik dan menawan. Jangan lupa untuk membawa bekal yang cukup.
Terlebih air, karena, disini tidak ada sumber air di atas, harus turun ke Pos 1
jika ingin mengisi air kembali. Jadi, sudah siap mendaki via Timboa?
Ringkasan Waktu Perjalanan Merbabu via Timboa
Metode pendakian secara Santuy ya
..... (sudah termasuk waktu istirahatnya dan vlog nya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar