Sabtu, 03 September 2022

INDAHNYA JALUR TIMUR MENJEMPUT MATAHARI FAJAR DALAM PENDAKIAN GUNUNG MERBABU

INDAHNYA JALUR TIMUR 

MENJEMPUT MATAHARI FAJAR 

DALAM PENDAKIAN GUNUNG MERBABU

(NB : MOHON TEMAN2 TIDAK LEWAT JALUR INI, TAATI PERATURAN, CUKUP SAYA SAJA, PAK MANJI HANYA BERTUJUAN BERCERITA AGAR KALIAN TIDAK PENASARAN )

v  Prolog

Puncak Syarif

Gunung Merbabu dengan ketinggian 3157 Mpdl. Terletak di Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Salatiga, Jawa Tengah. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan, Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah. Gunung Merbabu adalah gunung api (dalam kondisi tidur) yang bertipe strato yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT.

Gunung Merbabu dikenal sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, "merbabu" berasal dari gabungan kata "meru" (gunung) dan "abu" (=debu). Dengan demikian, gunung Merbabu adalah gunung abu. Maka, bisa ditafsirkan, gunung ini merupakan gunung berapi yang sering mengeluarkan abu. Atau malah gunung yang sering tertutup abu oleh semburan dari material gunung tetangga (Gunung Merapi). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.

Gunung ini mempunyai 7 puncak yang cukup menawan. Mulai dari Trianggulasi, Kenteng Songo, Ondo rante, Geger sapi, Puncak Syarif, dan Pemancar. Tidak hanya puncaknya yang banyak melainkan, titik pendakiannya pun juga banyak kurang lebih ada 7 jalur yang bisa kamu pilih. Diantara 7 jalur tersebut 6 jalur merupakan jalur yang sudah terkenal. Tetapi, ada satu yang kurang terkenal. Tetapi, di jalur ini kami akan mencoba untuk memulai pendakian yaitu Timboa. Penasaran apa saja yang akan kamu temui di sini, Mari kita lanjutkan pendakiannya berikut ini.

SOBAT MANJI JANGAN LUPA MAMPIR DAN SAKSIKAN VIDEO PERJALANAN KITA DI TIMBOA. SALAM MANJI... MANTAP JIWA....

UNTUK VIDEO PART 1 = 


UNTUK VIDEO PART 2 = 



v  Bagian PEMBAHASAN

Ø  Jalur Pendakian Timboa

Gunung Merbabu via Timboa merupakan jalur pendakian dari lereng Merbabu sisi timur laut. Berada di antara kota Boyolali dan Salatiga. Base camp pendakian beralamat di Dusun Margomulyo, Desa Ngadirojo, Kecamatan Ampel Kabupaten Boyolali. Base camp berada di rumah salah satu penduduk. Menurut informasi base camp dikelola oleh karang taruna di bawah koordinasi dari Mas Gadek. Base camp merupakan rumah penduduk. Sebenarnya, jalur ini bukan jalur resmi dari TNGM (Taman Nasional Gunung Merbabu). Jalur ini adalah jalur para peziarah yang akan napak tilas kisah Mbah Syarif. Dengan demikian, adanya jalur ini adalah demi menampung kepentingan para peziarah yang akan melakukan perjalanan rohani.

Jalur ini sudah cukup tua (ancient rute). Sebagaimana diceritakan oleh penduduk setempat, jalur ini pun tidak ada yang tahu persis adanya dimulai semenjak kapan. Yang jelas, jalur ini akan ramai pada hari-hari khusus, misalnya menjelang malam satu Suro (malam tahun baru penanggalan Jawa). Kendati jalur ini masih merupakan jalur peziarah, pihak dusun mencoba memberi papan-papan petunjuk di beberapa titik. Hal ini dilakukan demi meminimalisir adanya korban. Mereka berharap jalur ini bisa berkembang menjadi salah satu destinasi wisata desa. Sehingga dapat meningkatkan pendapatan warga terutama yang tinggal di sekitar base camp.

Sejauh aku amati, papan penunjuk jalur cukup jelas dan banyak. Bahkan juga sudah ada pos-pos perhentian, sebagaimana jalur pendakian pada umumnya. Jalur pendakian via Timboa ini langsung mengikuti satu punggungan dan tidak bertemu dengan jalur pendakian lainnya. Jalur ini langsung menuju Puncak Syarif. Menurutku karena ini bukan jalur resmi dari TNGM dan merupakan jalur peziarah yang banyak memiliki nilai historisnya sebaiknya digunakan sebagaimana mestinya.  Bagi sobat pendaki atau  sobat petualang yang tidak memahami,  tidak mau mengerti, dan tidak mau menghormati kearifan lokal juga agama asli, sebaiknya tidak mencoba jalur ini.

BC Timboa, tampak pintu depan
Bertemu Mas Boy
Dek Ahmad
Berkenalan juga dengan warga

Berkenalan dengan Mas Jati

Fasilitas MCK

Ø  Transportasi Menuju Base Camp Merbabu via Timboa

Secara umum, base camp pendakian dapat dicapai dengan mudah bila menggunakan moda tranportasi pribadi. Sebaiknya tidak mengandalkan transportasi umum (karena pasti akan mengalami kesusahan/ kesulitan). Waktu aku mendaki bertemu satu pasangan dari Boyolali yang memakai kendaraan bermotor dari Boyolali. Aku sendiri menggunakan mobil pribadi pak Boy. Untuk bisa sampai base camp, secara pribadi aku banyak dibantu oleh Mas Jati salah satu teman pendaki ketemu/janjian di BC. Beliau dengan senang hati memandu untuk bisa sampai di sana. Atau bisa juga menghubungi pihak pengelola base camp (085740004320).

Bersama 3 orang teman ( Mas Boy, Ahmad Roti dan Chef Jati ) kita melangsungkan perjalanan Merbabu jalur TIMBOA pada hari Sabtu – Minggu tanggal 30-31 Juli 2022. Hari Jumat malam sekitar pukul 23.00 WIB, kami kecuali mas Jati yang sudah di BC duluan, kami sampai di BC. Dari kota Solo pinggiran kumulai ekspedisi ini. Bertiga kami melaju dengan kendaraan pribadi menuju arah barat, Ampel, Boyolali. Sesampainya di jembatan kembar, kulihat ada plakat bertuliskan arah desa Ngadirojo. Maka kami belok ke arah kiri. Usai melewati jembatan, kulihat di sisi kanan ada base camp Primapala, tetapi sepi. Niat hati mau menggali informasi di sini, harus kandas, karena tiada orang. Akhirnya kami sempatkan berhenti di depan toko kelontong kebetulan kami lapar malam itu , lumayan kemasukan jajanan dan roti. Dengan perjalanan malam yang mendebarkan dikarenakan jalur jalan kampung yang kecil dan naik turun membuat kita ekstra waspada, sempat nyali sopir ciut dikala bertemu kelokan yang tajam dan membahayakan namun dengan tekad sejati kita akhirnya berhasil sampai di Basecamp Timboa.

Sepi, tidak ada siapapun juga kecuali mas Jati di BC. Kulirik arloji menunjuk waktu 23.30 WIB. Di pertigaan depan base camp, terlihat bekas guratan ban mobil kami yang selip. Aku pun tak lupa ucap syukur sampai disini dengan selamat walaupun butuh perjuangan.

Ø  Menuju POS 1 – SIMPANGAN

Kita menginap di BC malam itu, Setelah melihat situasi BC di pagi itu dan sempat mengobrol dengan beberapa warga, kami persiapan pendakian setelah sarapan roti seperlunya. Tak lupa berdoa meminta keselamatan untuk perjalanan ini dan dijauhkan dari binatang buas ataupun hal-hal negatif lainnya. Sebelum berangkat sempat aku membuka buku tamu/pengunjung, Kulihat di buku itu, memang jarang ada pendaki yang lewat jalur ini. Dan Menurut informasi memang di kampung ini belum ada warung dengan bangunan, yang kami temukan hanya rumah warga saja.

Kondisi dalam Basecamp

Berdoa sebelum berangkat

Awal pendakian

Kulihat  batas ladang sudah di depan mata. Kukobarkan semangat 45 untuk tetap melangkah dan kutetapkan tekat untuk beristirahat di sana. Benarlah perkiraanku, tepat 1 jam 30 menit selepas base camp aku pun tiba di selter “Encuring Bancing”. Tempat yang cukup rimbun. Tetapi tempat ini tidak cocok untuk mendirikan tenda. Kurang lebih sekitar 5 menit, aku beristirahat di sini. Tempatnya rimbun, sejuk dan masih banyak pepohonan. Usai merasa cukup beristirahat, kulanjutkan perjalanan. Mengikuti setapak yang lumayan besar dan bagus yang ditandai dengan pipa saluran air bersih. Sepanjang jalur, hutannya masih cukup rapat. Enak buat jalan. Menurutku, jalur ini adalah jalur yang paling asik. 10 menit meninggalkan Encuring Bancing, akupun tiba di Pos satu, “Simpangan”.

Jalur menuju ke Pos 1 masih berupa jalur Makadam, dimana ladang-ladang warga menjadi sajian yang cukup menarik. Banyak warga sekitar yang akan kamu temui, bila kamu mendaki pada siang hari. Perjalanan menuju pos 1 kurang lebih 1 jam 50 menit. Kemiringan tanjakan di jalur ini lumayan tinggi sekitar 45 derajat dan itu rata sepanjang jalur. Dan setelah Pos Encuring Bacing kalian akan ditemani pipa besi sepanjang jalur sampai dengan plakat POS 1. Tetap Butuh dengkul yang kuat ya hehehhe....

Di POS 1 ini kawan kawan ada sumber air berupa kran air ya, dan saat kami disana mengalir jadi bisa digunakan untuk suplai logistik perairan kalian.hehehhe. Pos ini lumayan cantik. Keren. Ada tempat datar untuk mendirikan 2 tenda dome. Dekat mata air, juga bisa melihat air terjun (khusus di musim hujan) di sebelah kanan. Pos ini dinamakan, “Simpangan”, mungkin karena memang ada persimpangan. Arah kanan menuju air terjun/ mata air yang dirawat oleh penduduk sebagai sumber air warga.

Disini saat, kita bisa beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Pos 2. 30 menit aku menikmati keindahan dari tempat ini. Suasana yang tercipta sungguh menyenangkan, menenangkan dan membahagiakan. Kemudian kuteruskan langkah. Dari Pos 1 ini pendaki harus belok ke kiri, naik menuju puncak.

Dedek Akira

Warga sekitar

Masih di jalan makadam

Mengobrol dengan warga di ladang
Pertigaan sehabis makadam

Pos Encuring Bacing

Pos 1 - Simpangan

Sumber air Kran di Pos 1


Ø  Menuju POS 2 – PAMPONG SEGER

Usai pos 1, keadaan setapak berubah total. Kita tidak dibawah rindang pepohonan, setapak hilang tertutup semak. Tetapi syukurlah, bila di atasnya terdapat lebat pepohonan maka setapak masih terlihat jelas. Sepanjang jalur ini medannya paling landai dan masih asri karena hutannya yang masih rapat. Jarak juga tidak terlalu jauh. Hanya di beberapa tempat, setapak telah hilang tertutup semak-semak.  Sekitar 60 menit, aku sudah sampai di Pos dua, “Pampong Seger”.Jalur menuju ke pos 2, masih tetap landai dan nyaman untuk dilintasi. Sayangnya saat musim kering, kamu akan disambut dengan debu yang cukup mengganggu. Disini, areanya cukup luas, bisa untuk 3 tenda sampai 4 tenda. Dan rindang juga sobat, sangat tepat dijadikan tempat mencok sejenak menghilangkan penat badan, apalagi kalau waktu pendakian siang hari di musim kemarau. Aku tidak berhenti di pos ini. Setelah mengambil beberapa foto, dan ngevlog sebentar Aku pun melanjutkan petualangan.

Menuju Pos 2 ambil kiri

Jalur Menuju Pos 2

Tiba di Pos 2 - Pampong Seger

Area Pos 2

Ø  Menuju POS 3 – MAINAN

Sekitar 150 meter selepas pos 2, situasi masih sama. Lebat pepohonan dengan rindang teduh cabangnya masih setia menemani perjalanan. Setelah itu, medan tantangan menjadi sangat berbeda. Medan jelajah terbuka luas tanpa perlindungan. Hamparan padang rumput setinggi dada telah siap menyambut. Rute seperti ini akan menemani sampai pos 3 dengan track zig zag.

Namun demikian, tidak serta merta jalur ini sebagai jalur penderitaan, masih nyaman lah buat kami melewatinya. Di sela-sela kami berhenti, membuka mata dan hati untuk menangkap pesona alam adalah kunci kesejahteraan hati karena siang itu view lautan awan begitu cantik menyapa sepanjang langkah kita menuju POS 3. Di sisi kanan ada jurang yang menganga tetapi menawarkan pesonanya, ada barisan perbukitan dan padang rumput itupun juga dihiasi bunga rumput yang setia menari manja membuat hati terkadang terdiam terpana.  Serasa berada di adegan Sindhen wayang menyanyikan cengkok lidah gemulainya...syuurr..... mantap jiwa.

Pada akhirnya pada pukul 13.30 WIB kita menginjakkan kaki di POS 3 – Mainan 2. Kami butuh waktu 90 menit untuk bisa sampai di Pos 3. Karena masih lumayan siang, kita berteduh dan saling bercengkerama dengan cerita cerita jenaka, apalagi mas Jati tipe pendaki tanpo prei bicara alias suka cerita, ya sudah tak terasa kita tertelan dengan obrolan-obrolan gayeng hingga pukul 15.00 WIB. Sebelum gelap kita dirikan tenda, disini berempat kita mendirikan tenda 3 biji. Mas Boy tenda 1P, Mas Jati tenda 1 P, Saya dan rekan Ahmad dengan tenda 2P. Di sela kami menikmati jam sore, datanglah 2 pendaki pasangan sampai di Pos ini, setelah kami mengobrol, mereka melanjutkan perjalanan, hemat kami mungkin mereka ingin mendirikan tenda di Pos 5. Di pos ini, terdapat area camping yang cukup luas. Tempatnya terlindung oleh semak-semak, bahkan seolah-olah area ini dipagari oleh perdu. Udaranya cukup hangat, karena angin tidak langsung bebas lewat. Ada juga banyak batang kayu kering sisa-sisa kebakaran, sehingga kalau dalam keadaan darurat bisa membikin api unggun secara gampang. Namun perlu di ingat kontur tanah kurang rata karena sudah ditumbuhi rumput ilalang yang lebat saat itu.

Berteduh dirindangnya pohon

Suasana Sabana Menuju Pos 3

Berteduh lagi coy

Ini yang namanya Mencok dulu mas Boy

Masih menuju Pos 3

Hingga tetes terakhir...

Mas boy tepar di jalur

Sudut tenda tepar juga

Akhirnya sampai di Pos 3

Pos 3 - Mainan 2


Ø  Menuju POS 4 (Ki Hajar Sampurna) – POS 5 (Watu Tumpang)

Dari sudut tenda memandang, trek jalur terlihat jelas sampai menjelang puncak (menurut info: itu adalah puncak banyangan/ pos 5, Watu Tumpang). Ditempat kita mendirikan tenda, tempat kami bermalam menikmati udara dingin Timboa, suhu terdingin sempat menyentuh angka 8 derajat celcius. Kesempatan ini, kami gunakan untuk memulihkan tenaga dengan menikmati perbekalan. Dan ke esokan hari sekitar pukul 06.00 WIB kita baru bangun. Sungguh udara semalam begitu menggoda ketahanan tubuh, namun tetap kita usahakan lelap tidur.

                Tepat Pukul 07.00 WIB setelah semua persiapan summit selesai, kami start pendakian summit ke Puncak Syarif, alhamdulillah recharge semangat berhasil, dengan begitu PeDe kami awali langkah awal.  Kami bangkit untuk meneruskan petualangan. Medan setapak dari pos 3 ke pos 4, lumayan landai, juga tidak terselubungi oleh semak-semak dan nyaman juga karena jalurnya dibuat zig zag, dan ada juga jalur yang straight lurus namun dibutuhkan kualifikasi dengkul racing untuk melewatinya. Sekitar 30 menit aku pun tiba di pos 4, “Ki Hajar Sampurna”. Area ini hanya berupa setapak. Tidak ada tanda-tanda sebagai tempat yang layak untuk mendirikan tenda. Mungkin sudah tertutup perdu dan semak. Aku merasa badanku kian lemas. Tenagaku terkuras. Akupun berhenti. Menghela nafas. Kutepuk-tepuk pipiku. Masih sadar. Masih waras.

                Di kejahuan terlihat pantulan sinar matahari yang membentur pernak-pernik pendakian. Setelah kuamati ternyata pasangan pendaki yang naik ketemu kemarin. Kelihatannya mereka sudah turun, aku menyimpulkan demikian karena ini pukul 09.00 WIB. Sambil menghela nafas, kudongakan kepala mencoba menatap gundukan puncak PHP yang masih terlihat jauh. Aku mencoba untuk menemukan kesegaran, tenaga dan berharap bisa mengurai lelahku. Kucoba amati dan ternyata teman-teman sudah ada jauh di depan, terutama si Ahmad mungkin saja sudah tiba di Puncak Pregowati.

Menuju ke Pos 5 kamu akan disuguhkan dengan tanjakan dan tidak akan pernah berhenti. Di pos ini kamu sudah sampai di Sabana. Sebuah padang yang luas. Puncak tinggal sebentar lagi. Tetapi, kami tidak menemukan plakat yang menuliskan bahwa disini Pos 5. Jalur yang dibuat zig-zag, dengan beberapa titik setapak untuk potong kompas sangat membantu kelancaran perjalanan. Aku beberapa kali mengambil jalur potong kompas. Sehingga membuatku memperpendek jarak dengan teman-teman di depan. Sambil mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, pandanganku tertuju pada pohon kantigi yang agak besar dan rindang. Segera kugali sisa-sisa tenagaku untuk segera sampai di situ. Ternyata mas Boy sudah menungguku, karena kepeduliannya bahwa satu botol minumanku dibawanya, Saatnya istirahat dan menikmati perbekalan.

Setelah berjalan 2 jam 30 menit dari Area Camp, sampailah kita di puncak Pregowati, disini saya sudah ditunggu Mas Boy dan Mas Jati, kalau si Ahmad sudah gass duluan. Menikmati udara dingin yang perlahan sudah mulai menerpa. Dari titik ini seperti kita berjalan di punggungan sapi atau geger sapi semacam itulah. 10 menit berjalan kita sampai yang namanya Jembatan Sirod.

 

Jalur menuju Pos 4, suket besti

Pos 4 - Ki Hajar Sampurno

Sabana menuju Puncak

View Pagi Menuju Pos 4

Awal summit

Bertemu pendaki couple sore hari

Tenda Mas Boy

Tenda Mas Jati

Tenda Pak Manji

Ngobrol sambil rehat di Pos 3

Ø  Menuju Jembatan Sirod , Summit Puncak Syarif

Di jalur pendakian Timboa kamu akan menemukan Jembatan Sirod. Dimana, jalur yang harus kamu lalui adalah sebuah jurang dan jalur yang hanya cukup untuk satu orang, treknya naik dan turun. Kesulitannya adalah jurang yang terlihat menganga dan bayangan kalau jatuh bagaimana. Pada kenyataannya Jembatan Sirod Timboa ini tidak terlalu berbahaya untuk dilewati. Namun saat kaki melangkah ada rasa berbeda yang terjadi, ntah apa rasa itu kadang terlupa oleh lelah yang melanda. Sobat Manji, tetap harus berhati hati dalam melangkah.

Dari tempat ini kulihat lereng merbabu dengan maha luasnya sabana yang seolah tiada bertepi. Terlalu indah untuk dikisahkan. Sekitar 10 menit aku beristirahat di puncak si Abi salah satu puncak yang kita temui dari jalur Timboa. Kurasa tenagaku telah pulih. Akupun bangkit, dan mulai berjalan lagi. Tidak berapa jauh aku meninggalkan tempat istirahatku, kulihat bayang manusia seperti bentuk dari sosok bidadari dan benar ternyata seorang wanita cantik berdiri agak jauh dari kerumunan puncak Syarif, ku dekati dan kuajak ngobrol namanya Kak Nidia asal Jakarta kalo gak salah. Wadiiidaw,,, manis banget senyumnya braaiii..... hehehheh

Kulirik jam tanganku dengan senyum ia menunjuk angka 11.00 WIB. Mungkin butuh 3 jam  20 menit dari Pos 3 menuju puncak Syarif ini, pemandangan yang disuguhkan sangat bagus, luar biasa. Adanya cuma kata, “Istimewa”. Rasa syukurku tiada terkira, bahwa aku masih bisa menembus petualangan bersama teman-teman yang solid. Aku duduk di bawah pohon kantigi menikmati sejuk udara gunung dengan panorama alam yang terbentang seolah tak bertepi. Tak berapa jauh puncak Kenteng Songo dan Triangulasi melambai-lambai untuk disambangi. Tetapi aku tidak tergoda, mengingat bahwa beberapa bulan lalu aku baru saja dari sana. Namun, Kalau kamu mau pergi ke Puncak Kenteng Songo, kamu bisa menuruni lembah dan menanjak naik menuju ke Kenteng Songo dan Trianggulasi. Waktunya hanya 30 menit. tetapi, tetap hati-hati ya

Sekitar satu jam aku sungguh-sungguh memuaskan diri untuk mereguk makanan jiwa dari keindahan alam Merbabu. Dari puncak Syarif ini, kunikmati bersama sahabat pendaki dengan cara yang bervariasi.

View Istimewa Menuju Puncak

Berjumpa Pendaki yang kemarin

Kemungkinan Pos 5

Kemungkinan Puncak Pregowati

View dari Puncak Pregowati

melewati Jembatan Sirod

Masih Jembatan Sirod

Puncak SIABI via Timboa

Bertemu kak Nidia ( manis puol senyumme )

Bidadari Puncak Syarif

Makam Mbah Syarif

Puncak Syarif

Keindahan dari Puncak

Situasi Puncak Syarif

Jauh terlihat Puncak Kentengsongo dan Triangulasi

Ø  Perjalanan Turun

Dalam perjalanan turun ini ku terus berjalan, tidak berhenti dan bahkan sempat beberapa kali terpeleset. Kurasakan lututku kian kelu. Rasanya ngilu. Setelah tiba di Area Camp Pos 3, menikmati makan dan minum, lanjut packing dan Tepat Pukul 14.00 WIB kita langkahkan kaki meninggalkan area camp. Istirahat sejenak di pos 1 untuk menghabiskan perbekalan dan menyisakan setengah botol kecil air minum (perbekalan terakhir). Kembali aku melaju hingga tiba di BC Timboa sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah bebersih di BC, kami meninggalkan base camp dan menuju rumah (Solo). 

Perjalanan turun dari puncak

Terlihat Elang jawa mencari mangsa

Disambut lautan awan 

Lautan awan yang elok


v  BAGIAN PENUTUP

Pada Perjalanan Merbabu via Timboa kutemukan kami bukanlah apa-apa. Tidak ada yang layak aku sombongkan. Di atas langit selalu ada langit. Selalu ada orang-orang hebat (yang tentu memiliki kekurangan). Tidak ada manusia yang sempurna dalam segala hal. Ada kelebihan di satu sisi, tetapi tentu juga ada kekurangan di sisi lainnya. Kusadari bahwa aku harus terus menempa diri agar menjadi semakin baik dan terutama menjadi semakin rendah hati. Terimakasih Merbabu, padamu aku boleh mereguk kesejukan hati, kedamaian jiwa dan kelegaan rasa. Semoga karunia bahagiamu, membawaku untuk semakin berani bersandar pada Sang Pemberi yang utama. Biarkan jiwaku sementara berbaring dalam dekap hangatmu. Terimakasih untuk semua orang yang aku jumpai dalam petualangan ini. Biarkan senyum ketulusan itu mengalir dan menjumpai semakin banyak orang. Terimakasih untuk Mas Boy, Mas Jati dan Ahmad untuk menemaniku menimba damai dan tenang di kesunyianmu, Merbabu.

Gunung Merbabu Via Timboa menjadi jalur pendakian yang menarik dan menawan. Jangan lupa untuk membawa bekal yang cukup. Terlebih air, karena, disini tidak ada sumber air di atas, harus turun ke Pos 1 jika ingin mengisi air kembali. Jadi, sudah siap mendaki via Timboa?


 Ringkasan Waktu Perjalanan Merbabu via Timboa

Metode pendakian secara Santuy ya ..... (sudah termasuk waktu istirahatnya dan vlog nya)

1.      Base camp - Encuring Bacing (batas perkebunan-hutan) : 90 menit

2.      Encuring Bacing - Pos 1 Simpangan : 30 menit

3.      Pos 1. Simpangan - Pos 2 Pampong Seger : 60 menit

4.      Pos 2. Pampong Seger – Pos 3 Mainan : 90 menit

5.      Pos 3. Mainan - Ki Hajar Sampurna : 30 menit

6.      Pos 4. Ki Hajar Sampurna - Watu Tumpang : 120 menit

7.      Pos 5. Watu Tumpang - Puncak Pregowati : 30 menit

8.      Puncak Pregowati - Jembatan Sirod  : 5 menit

9.     Jembatan Sirod - Puncak Syarif : 20 menit

NB: total waktu yang kita butuhkan untuk sampai puncak 8 jam

Setiap rombongan mungkin berbeda waktu tempuh, waktu diatas adalah waktu kita.

 

Akhir Kata... Salam Manji MANTAP JIWA

 



Referensi :
- Dokumentasi pribadi
- http://heriandreas.blogspot.com/
- dan dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar