Kamis, 19 Januari 2023

SISI SELATAN LAWU

GUNUNG JOKOLANGAN / JOBOLARANGAN VIA WONOREJO

Oleh : Sudut Tenda

Puncak Jokolangan 2.300 mdpl


Salam Manji sobat pendaki. Kembali bertemu dalam perjalanan tek tok Gunung Jokolangan. Kali ini aku akan berbagi pengalaman mendaki Gunung Jokolangan dengan ketinggian 2.300 mdpl. Memang bukan gunung tinggi dan juga bukan gunung terkenal. Tetapi soal keindahannya patut diperhitungkan. Terutama bagi yang suka dengan petualangan “Jelajah Belantara”.

Sekilas pandang tentang Gunung Jokolangan

        Bagi kebanyakan dari sobat petualang bisa saja Gunung Jokolangan masih terdengar asing. Atau mungkin malah belum pernah mendengarnya. Sedikit informasi, dan informasi ini murni atas kesimpulan pribadi, belum ada literasi yang memaparkan tentang gunung ini secara rinci dan akurat. Gunung Jokolangan merupakan puncak tertinggi dari gugusan bukit-bukit yang berada di selatannya gunung Lawu. Jadi kalau teman-teman sobat manji petualang pernah mendaki gunung Lawu via Cemoro Kandang atau Sewu, di sebelah atau diseberang jalan terlihat gagah gunung yang tidak terlalu tinggi ya itulah letaknya. Dari temen-temen penggiat alam yang biasa lintas hutan-gunung, Jokolangan berdekatan dengan 4 kabupaten (bisa dikatakan sebagai titik temu dari 4 perbatasan kabupaten) yaitu Karanganyar, Magetan, Ponorogo, dan Wonogiri.

        Gunung Jokolangan diyakini sebagai gunung Lawu purba. Artinya yang disebut gunung Lawu pada awal mula adalah Gunung Jokolangan . Tetapi sekarang malah disebut sebagai anaknya Lawu. Di area puncak terdapat 2 punden berundak yang masih terawat. Punden berundak merupakan salah satu simbol keagamaan di nusantara. Terlihat masih ada aktivitas kegiatan spiritual yang ditandai dengan adanya bekas bakaran dupa. Juga ada tempat bertuliskan “Pertapaan”. Tempat ini berupa lubang tanah dengan ukuran 1x2 m. Bisa saja ini dipakai untuk meditasi karena pasti lebih hangat dan terlindung dari angin.

        Gunung ini memiliki tiga jalur atau tepatnya dapat ditempuh melalu 3 titik. Sampai hari ini belum ada jalur resmi untuk pendakian Gunung Jokolangan. Ketiga jalur itu dua lewat Karanganyar, yaitu via Mongkrang dan via Wonorejo. Sedangkan yang satunya via Wonomulyo, Magetan. Saya pribadi baru melewati 1 jalur yaitu lewat Wonorejo.


Transportasi Menuju Basecamp Wonorejo

        Gunung Jokolangan via Wonorejo beralamat di desa Wonorejo, Jatiyoso, Karanganyar. Untuk menuju kelokasi BC bisa melacak melalui GPS, dengan mengetik “Wisata Rumah Pohon Wonorejo”. Bila sobat petualang berminat kesana bisa menghubungi pengelola Mas Bim-Bim (WA = 0821-3632-7901), atau menghubungai IG @jokolangan.





Simaksi Pendakian

            Berhubung jalur belum resmi, maka biaya simaksi masih seikhlasnya (suka rela), waktu kami kesana kita keluarkan biaya 10.000,- untuk masuk dan 5.000,- untuk parkir motor.


Video Pendakian Gunung Jokolangan  via Wonorejo


Cerita tentang Pendakian Gunung Jokolangan via Wonorejo

        Hari Minggu, 11 Oktober 2021, aku bersama tiga teman ( Mas Ikhsan, Mas Rully, Mbak Upi)  mencoba mengexplorasi gunung yang jarang di datangi pendaki, yang juga termasuk gunung yang dekat dengan tempat tinggal, sehingga bisa dibilang daerahnya sendiri, masak daerah lain disambangi tetapi daerah sendiri kok tidak mengerti. Tu kan kebangeten bestie…., wkwwkwkkwk. Kendati aku bukan asli kelahiran Karanganyar, tetapi sering sekali berada di Kabupaten ini. Maka, ada baiknya kalau aku mulai mengenal seluk beluk wilayahnya. Hampir tiap seminggu sekali berada di Karanganyar, tetapi belum pernah menyambangi kecamatan Jatioyoso. Kecamatan di ujung selatan-timur, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Wonogiri.

        Tepat pukul 07.00 WIB aku meninggalkan kota Surakarta menuju ke timur. Dengan yakin, target pertama langsung menuju Kecamatan Matesih. Tanpa bertanya dengan keyakinan penuh, geber motor sampai di Karang Lo, lalu ketika bertanya, ternyata untuk menuju Wonorejo, Jatiyoso, harusnya lewat Matesih lurus menuju Beruk. Lalu kami diarahkan untuk melintasi desa-desa kecil. Ketidak tahuan ini, menghantar kami secara tidak langsung untuk explorasi Jatiyoso. Di lokasi sebelum sampai desa Beruk, akhirnya aku sampai dititik pertemuan, disini kita berkenalan singkat dan kemudian melanjutkan perjalanan Bersama.

        Sesampainya di desa Beruk, Jatiyoso, kami menikmati keindahan yang disuguhkan. Desa Wonorejo berada di seberang bersebelahan dengan desa ini. Segera kami pun meluncur. Target kami adalah Wisata Rumah Pohon. Namun Sesampainya di lokasi, ternyata tidak ada BC pendakian, lalu kita Kembali turun bertanya-tanya warga sekitar, ternyata BC ada di bawah. Dilokasi BC adalah rumah salah satu warga, disini sebelum kita naik kita harus regristrasi, namun karena petugas BC belum ada terpaksa kita menunggu sekitar 2 jam baru bisa regris. Sebelum pendakian dimulai, kita mendapat briefing singkat tentang jalur pendakiannya, jadi tenang kawan-kawan, kita bakal mendapat informasi tentang jalurnya kok. Lalu, kami pun di arahkan untuk langsung melakukan pendakian. Tak lupa kita berdoa bareng-bareng sebelum aktifitas dilaksanakan.


Bertanya lokasi BC ke salah satu warga

Lokasi parkir BC

Tampak depan BC Wonorejo

Mengisi buku regristasi

Briefing petugas BC

Rumah Pohon

Jalur pendakian arah kanan

View didekat rumah pohon


þ  Rumah Pohon (BC) - Pos 1 Aruh

        Pada mulanya wisata “Rumah Pohon” Wonorejo sempat viral dan rame pengunjung. Tetapi semenjak pendemi, pelan-pelan wisata ini mulai ditinggalkan dan kini sangat sepi bahkan terkesan tidak terurus.

Terlihat dari bekas kios-kios penjaja makanan yang tidak terawat. Lokasi berada di punggungan bukit yang datar. Dari pertigaan atau perempatan rumah pohon dengan jalur pendakian, pilih tikungan kanan. Pendakian ini kami mulai tepat pukul 11.00 wib. Diawali dengan jalanan datar seluas kurang lebih 1,5 meter.

Jalan yang sekaligus jalan warga dari hutan untuk membawa rumput. Di sisi kiri terdapat punggungan bukit yang terjal, sedangkan sisi kanan terdapat lereng turunan curam. Di sebelah kanan dan kiri terdapat hutan  pinus yang masih padat. Jadi udara dan hawanya sangat sejuk dan enak. Di sela sela pepohonan pinus juga ditemui pohon kopi warga, melihat dari ketinggian yang tidak terlalu tinggi, bisa jadi ini jenis kopi robusta.

        Sekitar 25 menit menikmati jalan yang cenderung datar di bawah kanopi hutan pinus, sampailah kami di pertigaan. Tenang ada penunjuk jalan. Kami belok kiri, dan jalanan pun mulai menanjak dengan hutan yang tidak lagi homogen. 50 menit meninggalkan titik pendakian sampailah di bak sumber air dengan air yang meluber-melimpah, sejenak istirahat menikmati snack ringan dan kami pun terus melakukan perjalanan menyusuri jalanan yang cukup lebar di bawah hutan heterogen. Hingga kami tiba di bulak padang rumput dan ternyata merupakan Pos 1 Aruh. Disini kita bertemu dengan adik adik pendaki, kita sempat mengobrol juga, terlihat rata-rata mungkin anak SMP, mereka jalan turun habis ngecamp di atas. Tepat 1 jam kita beristirahat di Pos yang cukup asri ini, beratap seng terasa adem-adem hangat saat di bawahnya.

 

Berdoa sebelum pendakian


Track awal pendakian

Lebatnya pohon pinus

Pohon disebelah Track

Ramah tamah dengan warga setempat

Kebon Kopi

mulai memasuki jalur hutan

sampai pertigaan ambil kiri

nemuin buah murbei

icip-icip buah dulu...

Sumber air sebelum pos 1

ngaso dulu lur...

di depan pos 1

þ  Pos 1 Aruh - Pos 2 Surupan 

  Pos 1 Aruh (Aruh-Aruh), menurut keterangan pada postingan akun IG resmi @jokolangan bahwa berdasarkan cerita para tetua desa, dulu di sekitar pos sering dijumpai para penduduk yang berpapasan. Mereka sering keluar-masuk hutan dan saat berjumpa itulah mereka saling menyapa (dalam bahasa Jawa istilahnya adalah “Aruh-Aruh” atau “Ngaruhke”). Pos 1 Aruh merupakan sebidang tanah datar yang cukup luas. Bahkan bisa untuk mendirikan tenda lebih dari 20. Dari sini bisa melihat panorama bawah, terutama views lampu-lampu kota. Di pos ini juga ada selter yang sangat memadai, besar dan luas, seperti pendopo. Selepas Pos 1, setapak menyempit dan mulai menanjak ringan. Sekitar 10 menit, kami bertemu dengan pertigaan, tenang saja karena sudah ada papan penunjuk arah untuk memilih yang kanan. Lalu setapak dominan landai, dengan tetap berpayung lebatnya dedaunan dari pohon-pohon yang beraneka, ditambah suara binatang hutan yang bersaut-sautan menjadikan suasana semakin istimewa.

        Jalur antara Pos 1 – 2 dominan datar, hanya ada tanjakan ringan di awal-awal, melewati aneka perdu, ada bunga-bunga hutan, dan ilalang. Tanda habisnya jalur adalah vegetasi yang kian rapat. Dari hutan buatan yang tidak lagi rapat menuju ke kawasan hutan tropis yang masih sangat padat, sehingga matahari pun susah masuk. Perjalanan dari Pos 1-2 hanya butuh waktu 40 menit dengan jalan santai.

Pos 1 Aruh

Ngobrol dengan pendaki bocil

Perjalanan menuju pos 2

nemu pertigaan menuju pos 2

Track menuju pos 2

Bunga di tepi jalur

ngaso dulu lur

Ngaso lagi lur

depan pos 2


þ  Pos 2 Surupan - Pos 3 Batur Bayi

        Pos 2 Surupan merupakan daerah yang cukup datar, tenang, dinaungi pepohonan yang beraneka ragam, cukup teduh dan sejuk. Sudah ada selter tetapi belum ada atapnya. Di sini juga terdapat sumber air tepat di samping selter. Jadi, para pendaki yang akan bermalam di area sini sangat dinyamankan dengan adanya sumber air yang berlimpah. Kata surupan merupakan istilah yang diambil dari kata “Surup”, yaitu kata Jawa yang berarti matahari tenggelam. Dengan demikian surupan menunjuk peristiwa alam, pergantian suasana dari terang ke gelap. Juga di pos ini walaupun matahari terik, disini terlihat edum atau “eyup” dalam Bahasa jawa.

        Sekitar 15 menit kami berisitirahat di Pos 2. Di sini pula kita bertemu dengan rombongan pendaki kampung, karena dilihat dari pakaian dan peralatan yang dibawa benar-benar low profile atau simple namun mereka sudah dari atas, Ditengah obrolan hangat di sela juga oleh kejenakaan obrolan yang menambah suasana menjadi riang sekali. Kak Upi tiba-tiba saja memanjat pohon besar yang ada di Pos ini, sungguh Wanita tak kenal takut, bisa memanjat pohon sampai setinggi itu, kita saja mendongak ke atas pohon perasaan sudah gontai hehehehe… hati hati kak Upi….!!!!

        Setelah pos ini jalur mulai naik tingkat, artinya tanjakannya mulai terasa, masih cukup landai tetapi naik terus. Merambati setapak dari pos ini tidak terasa berat karena hutannya begitu lebat. Beruntungnya kami, sepanjang perjalanan juga disuguhi angin sepoi-sepoi yang begitu terasa tiada berkesudahan. Sebuah keberuntungan bagi kami sehingga bisa membangun ruang imajinasi masuk ke dalam zaman kuno.

        Sekitar 35 menit, kami merambati setapak antara Pos 2 - 3, dan kini kami telah berada di sebidang tanah datar. Artinya kami telah tiba di Pos 3 Batur Bayi.

Pos 2 Surupan

Ka Upi beraksi

Kak Upi apa gak takut...

Pohon legend di pos 2

Mata air pos 2

Melanjutkan perjalanan ke pos 3

Track masih rimbun

Gubuk hampir ambruk

Mas Rully lempoh

vegetasi akar pohon yang mati

Rimbunya hutan Jokolangan

bertemu bidadari 1

bertemu bidadari 2

Butuh perjuangan besti....

akhirnya sampai pos 3

þ  Pos 3 Batur Bayi - Pos 4 Pundaan


        Pos 3 Batur Bayi merupakan selter yang sudah ada kanopinya. Cukup nyaman buat istirahat, namun pos ini tidak cocok untuk mendirikan tenda/ bermalam karena area yang miring. Yang datar hanya pas di bawah selter. Pos ini juga telah tersedia sumber air, tinggal putar kran maka air akan bersih dan jernih mengalir. Dengan demikian pendakian di jalur ini bisa terkurangi bebannya, karena sampai di pos 3 sumber air melimpah.

        Tak berapa lama kami istirahat di pos ini, sekitar pukul 14.00 wib kami langsung jalan lagi. Sampai di sini kami tidak berjumpa dengan pendaki lainnya. Selepas pos 3 hutan belantaranya sungguh luar biasa, begitu padat dengan berbagai jenis vegatasi yang tumbuh. Mulai dari pos 3 ini juga tanjakan makin mengganas, tiada henti dan tiada berkesudahan. Sungguh suasana yang langka, di Jawa masih ditemukan hutan hujan tropis yang masih jarang dijamah manusia. Semua pohon berlumut, menunjukkkan kalau di area sini masih sering hujan dan lembab.

        Temanku kak Ikhsan mulai sering berhenti pertanda bahwa ia telah terkuras tenaga dan mentalnya. Kami pun putuskan untuk istirahat sejenak sambil menikmati bekal ala kadarnya. Kembali kami tertatih untuk merambati tanjakan yang tiada ampun. Selepas pos 2 sudah tidak ada lagi penunjuk jalur, tetapi memang hanya ada satu setapak, tidak ada lagi persimpangan, jadi sudah pasti aman. Setelah pos 3 ada penanda tali rafiah berwarna kuning. Setelah kurang lebih 60 menit tibalah kami pada setapak yang mendatar, dan ternyata ini adalah pos bayangan.

Sumber Air pos 3

Meninggalkan pos 3 menuju pos 4

bertemu pendaki lain

Track mulai menantang

Tanjakan tiada libur

akhirnya sampai pos bayangan

þ  Pos 4 (Bayangan) Pundaan – Puncak Jokolangan (Jokolarangan)

        Kami tiba di Pos 4 (Bayangan) Pundaan tepat satu jam selepas pos 3. Di sini tidak ada selter juga tidak ada keterangan pos. Tetapi ada plakat yang tertempel pada batang pohon gede dengan tulisan “Pundaan”. Maka saya menyebutnya pos 4 atau pos bayangan. Di pos ini medan cukup datar, dan lapang. Belum ada tanda-tanda orang yang pernah bermalam di sini. Tetapi medannya cukup baik untuk mendirikan tenda. Di pos ini bisa menampung puluhan tenda, tetapi harus membersihkan beberapa perdu.

        Kita buka bekal dan menyantap setengah bekal yang kita bawa, sambil bercanda agar kekuatan mental kami berangsur normal juga fisik kembali recharge. Di area ini juga demikian mirip dengan pos 2 yang sayup atau edum, tidak bisa membayangkan apabila berada disini sendirian…. Uuhhh…

        Selepas pos 4 ini medan datar semacam bonus sekitar 100 meteran. Melewati medan datar ini imajinasi langsung liar menuju pesona-pesona hutan belantara. Bahkan di beberapa titik mengundang imajinasi seperti berada di hutan trembesi Benculuk Banyuwangi. hehhehehe

        Bonus datar usai, langsung kami dihadapkan pada tanjakan super ganassss dan tanpa ampun. Seolah memaksa lutut kami harus beradu dengan dahi. Nafas harus diatur agar tenaga tidak cepat koyak. Mas Ikhsan kian terseok-seok. Hingga pada akhirnya ia pun menyerah mengatakan, “Cukup sampai di sini saja“. Lalu aku hentikan langkah. Tidak banyak kata, hanya berucap, “Istirahat dulu aja. Gak usah maksa”. Lalu kami istirahat, minum dan menikmati makan minum. Apa yang aku nikmati aku tawarkan ke teman-teman. Aku tidak memaksa hanya mencoba menikmati senikmat mungkin, tanpa kata, tanpa komentar. Sekitar 10 menit istirahat tanpa kata dan omongan. Hanya menikmati bekal dan menikmati lelah. Mencoba berdamai antara asa, lelah raga, dan keindahan hutan. Lalu aku coba tanyakan lagi, dan Mas Ikhsan menjawab “Oke, kita lanjutkan, kurang sedikit lagi nanggung”. Akhirnya kami berempat dengan tersungging senyum menerjang track menuju puncak dengan perasaan semangat yang membara… gasss… gass… gass….!!!

        Mas Ikhsan pun bangkit, tidak berjalan ke arah bawah tetapi melanjutkan petualangan. Aku ikuti saja dari belakang. Selangkah demi selangkah kami jalani dan mata tidak hanya fokus melihat tanjakan dan setapak tetapi lebih menikmati pesona hutan yang bagiku sangat epik, bahkan terlalu epik. Kak Upi sudah njerantal gasss duluan ke aras depan, sampai beberapa menit kemudian Ia berlari menghampiriku, dengan muka agak bingung ku bertanya “Ada apakah kok berlari kesini? Tegasku. Dia menyahut “Puncak ada asap!!! Apa kebakaran ya??” ucapnya. Dan dalam diam aku sayup merasakan bau asap api , kemudian kita bergegas menuju atas. Hingga tanjakan pun habis berganti medan yang melandai dan tibalah kami pada pohon besar dengan keterangan, “Jokolangan 2.300 mdpl” dan di bawahnya ada papan yang bisa dibawa kemana-mana bertuliskan, “Jokolangan 2.300”. Dari pos 4 hanya butuh waktu 45 menit. Total perjalanan dari BC sekitar 4 jam.

        Kak Upi pun langsung menghampiri titik api di tanah sebelah barat plakat Jokolangan. Mencoba mematikan sisa sisa api yang membakar perdu dengan kayu dan tanah. Disusul kemudian Mas Rully membantunya. Setelah dirasa api terlihat padam, dan tidak ditemui nyala api di tempat lain, kita memutuskan beristirahat di area puncak ini, menyelaraskan hati dan badan dalam menikmati keberhasilan menapakkan kaki di puncak Gunung ini.

jangan lupa minum guys

dari jauh kelihatan nyusss

istirahat sambil nikmatin view

tanjakan lagi yukkk

istirhattt

Masih hutan berkanopi rindang

menuju puncak terlihat wow

didepan puncak


Puncak Jokolangan

Area puncak sebelah kiri kebakaran

Di sana Gunung Lawu

sisi bawah kebakaran

Mas Rully sedang memadamkan sisa api

Bekerja sama memadamkan api


þ Puncak Jokolangan 2.300 mdpl

        Pukul 16.30 WIB kita sampai disini. Lalu aku mengeksplorasi area sekitar. Dimana puncak ini sangat asik buat nenda. Tanahnya datar sudah disiapkan oleh pengelola. Malah ada selter alaminya. Bersama awan yang membentuk lautan, sehingga views terpandang sangat indah dan sulit untuk dibiarkan begitu saja tanpa berfoto hehehehhe. Ada beberapa tempat duduk yang sudah disiapkan. Sangat asik. Udaranya sejuk, tidak dingin, hanya sejuk. Pokoknya asik aja.

        Ku dekati Mas Ikhsan dan ku ajak ngobrol, tentang perjalanan ini, dia bilang “Wah, puol tenan keselnya!!! Buat kalian yang ingin kesini siapkan bekal yang cukup dan lakukan juga persiapan fisik sebelum mendaki”. Yahh, memang Mas Ikhsan ku ajak kesini ceritanya dadakan, sehingga Ia tidak sempat berolahraga sebelumnya, maafkan aku bestie wkwkkwkw…..

        Aku sempat menemukan plakat bertuliskan PUNCAK didekat puncak Jokolangan ini. Lalu aku teliti papan penunjuk arah yang bertuliskan “puncak”, papan ini mengarah ke suatu bukit yang ternyata itu mengarah ke Puncak Jobolarangan. Berarti dugaanku benar. Puncak Jobolarangan berada di samping puncak Jokolangan ini. Setelah kita berdiskusi ditentukan bahwa untuk Puncak satunya kita skip dulu, mengingat situasi jam sudah menjukkan senja, takutnya perjalanan balik terlalu malam, karena kita hanya Tek Tok.












þ   Saatnya Turun


        Setelah berpuas diri di lokasi ini, Lalu kami melanjutkan perjalanan turun dibarengi sun set dari seberang kanan jalur, memperlihatkan ke kita betapa elok dan menawan Matahari sore ini. Teman-temanpun telah pulih dari lelahnya. Kembali ceria dan sangat menikmati tiap langkah untuk menapak. Sekitar pukul 17.20 WIB, kami memulai perjalanan turun. Awal perjalanan turun sampai pos 3 tantangan yang kami hadapi adalah turunan yang licin. Kendati sudah sore namun setapak masih kelihatan dan cukup licin. Hal ini bisa dipahami karena matahari seolah tak berdaya untuk menyentuh tanah. Kanopi vegetasinya memang sangat rapat dan padat.

        Selepas pos 3 perjalanan sangat santai dan nikmat, 20 menit ketemu pos 2 lanjut dan ketemu pos 1 lanjut lagi hingga sampai juga di parkiran tepat pada pukul 20.00 WIB dengan selamat, aman dan penuh kesan.



þ  Akhirnya

        Pendakian Jokolangan via Wonorejo ini menjadi salah satu caraku untuk menziarahi diri, dan merenunginya. Melalui peristiwa ini, Kami semakin mengenal diri kami dengan kurang dan lebihnya, serta menemukan tekad untuk memperbaikinya. Terimakasih untuk teman-teman sebagai rekan dalam peziarahan ini serta semua orang yang mendukung petualangan ini. Terimakasih setapak Jokolangan , terimakasih atas lebat vegetasimu dan biarkan sunyi-bijakmu menjadi lentera hidup. Terimakasih Tuhan untuk segala yang Engkau beri terutama untuk peristiwa ini. Bila masih ada sehat dan celah waktu aku pasti akan kembali. Melalui setapak kembali berziarah untuk menemukan makna agar semakin dewasa dalam merasa, berpikir, berkata, dan bertindak.



þ  Tips Mendaki gunung Jokolangan via Wonorejo


1. Persiapkan fisik, mental dan peralatan.

2. Sebelum mendaki dan setelah mendaki harap melaporkan diri ke BC (tujuannya untuk data  dan demi keamanan).

3. Jalur Jokolangan via Wonorejo relatif sepi.

4. Jalur Jokolangan via Wonorejo, ini memiliki pemandangan yang keren.

5. Bagi yang suka nenda, nendalah di Puncak Jokolangan, aman dan pastinya keren.

6. Sumber air: ada 3 (sebelum Pos 1, Pos 2 dan Pos 3).



þ  Estimasi Waktu Pendakian Gunung Jokolangan via Wonorejo


1. Basecamp (Rumah Pohon) - Pos 1 Aruh : 1 jam

2. Pos 1 Aruh - Pos 2 Surupan: 40 menit

3. Pos 2 Surupan - Pos 3 Batur Bayi: 35 menit

4. Pos 3 Batur Bayi - Pos 4 Pundaan: 1 jam

5. Pos 4 Pundaan – Puncak Jokolangan: 45 menit



Demikian cerita kami, semoga dapat memberikan manfaat informasi dan hiburan.
SALAM MANJI - Mantap Jiwa