Jumat, 26 Agustus 2022

PENDAKIAN GUNUNG SALAK JALUR PASIR REUNGIT BONUS KAWAH RATU NAN EKSOTIS

 

PENDAKIAN GUNUNG SALAK JALUR PASIR REUNGIT BONUS KAWAH RATU NAN EKSOTIS


👉 INTRO

Pendakian Gunung salak dengan ketinggian 2211 mdpl memang menjadi impian semua pendakian. Ada yang mengatakan belum bisa dikatakan menjadi pro bila belum naik Gunung yang sebenarnya pendek dilihat dari ketinggian. Tetapi, setelah dijalani rasanya seperti naik diatas 3000 mdpl. Bikin dengkul kalian cepat kopong hehehhe..

Gunung 2000 Mdpl rasa 3000 Mdpl. Sepertinya, perumpaan ini sangat cocok untuk disematkan pada Gunung Salak. Sebagai salah satu gunung berapi di tanah pasundan, Gunung Salak memiliki tiga puncak gunung, yaitu Puncak Salak I atau Puncak Manik dengan ketinggian 2211 Mdpl, Puncak Salak II berketinggian 2180 Mdpl, dan Puncak Sumbul setinggi 1926 Mdpl. Meskipun ketinggian Gunung Salak termasuk dalam golongan rendah, namun jalur pendakian dan karakter vegetasi di Gunung Salak membuat semua pendaki kewalahan.

Salah satu jalur pendakian yang paling menarik adalah melalui Pasir Reungit. Tidak hanya menemukan kesusahan saja. Melainkan kamu bisa relaksasi di air terjun yang akan kamu temukan di sepanjang perjalanan. Lumayan bukan, untuk membasuh dan membersihkan diri.

Pak Manji/Sudut Tenda

Jendral Yono

Bratboy83


Oke sob, kita mulai petualangannya, jadi akhir pekan lalu, Jumat (27 Sept 2019) Pak Manji diajak Bratboy83 untuk trekking di Gunung Salak lewat BC yang beralamatkan di Jl. Gn. Bunder, Gn. Picung, Kec. Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16810, yang melewati Kawah Ratu. Tujuan kita olahraga sekaligus menambah imun. Hehehe, dulu sih belum pandemi ye... Sebuah kisah tentang perjalanan tiga pemuda konyol, dalam hal menghabiskan waktu liburan.... Back To Nature dengan kekonyolan yang bermartabat adalah ciri khas kita. Mr. Camping/a.k.a Sudut Tenda menghadirkan sebuah dokumentari dari hasil liburan yaitu Pendakian Gunung Salak akan kami bahas di bawah berikut gaes.....

Titik GPS BC Pasir Reungit

Peta Jalur Pendakian Gunung Salak

Penunjuk arah camp ground pasir reungit

Tenda kami, di campground setelah di datengin pak karcis hehehhe


👉 BAGIAN PEMBAHASAN

v  MENUJU BOGOR DARI SOLO ( SURAKARTA )

Sebelum sampai ke sana, kita jelaskan dulu perjalanannya, dari Kota Surakarta, perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB di Stasiun Solo Balapan tujuan Stasiun Jatinegara, Jakarta . Dengan kereta api, kita menikmati perjalanan cukup panjang ± 9 jam lamanya. Pukul 17.00 WIB kita telah sampai di Jatinegara kemudian melanjutkan perjalanan arah Kota Bogor dengan moda transportasi KRL Jakarta-Bogor ditempuh dalam 2 jam perjalanan rute full (memutari Jakarta), akhir kata waktu itu kita kapok naek KRL karena tepat waktu-waktu pada pulang kerja, hampir jadi udang penyet kita, sebab penuhnya bukan maen.

Setelah berjibaku di dalam kereta KRL, sekitar jam 8 kaki menginjakkan bumi Bogor dan segera ke titik pertemuan dengan teman lokal untuk mengantar ke BC Pasir Reungit. Tak lupa kami sempatkan bercanda, mengobrol dan makan bersama sebelum lanjut perjalanan.

 

Stasiun Bogor

Stasiun Jatinegara

Perjalanan di kereta

v  SIMULASI JIKA MENGGUNAKAN TRANSPORTASI UMUM ( Khusus Dari Jakarta )

Untuk bisa ke titik awal pendakian gunung salak via Pasir Reungit dari Jakarta misalnya dengan cara naik kereta KRL cukup murah setelah kamu sampai ke Stasiun Bogor bisa dilanjut dengan naik angkot bernomor 02 atau 03 dengan juruan terminal laladon (Bubulak) dengan taris angkot berkisar 10k -15k kemudian dilanjut naik angkot lagi bernomor 05 dengan juruan Tenjoljaya (Cinangeng) dengan ongkos 8k-15k dari sini kamu harus naik ojek menuiu kawasan wisata alam gunung bunder. Namun rekomendasi dari saya adalah carter mobil atau dengan kendaraan pribadi. Lebih afdol kalau bisa punya kenalan orang sana gaes hehehehhe. Jadi biar tidak bingung misal kita tiba di kota sana kemaleman seperti kami saat itu.

 

v  PINTU MASUK BC PASIR REUNGIT

Di sekitar desa Pasir Reungit terdapat Bumi Perkemahan dan tiga air yakni, curug Cigamea satu, curug Cigamea dua, dan curug Seribu, yang dapat disinggahi sebelum ke Kawah Ratu. Curug Cigamea tingginya kurang lebih 50 meter, sedangkan tumpahan airnya melebar.

Setelah 2,5 jam perjalanan menanjak dari jam 21.00 WIB sampai di lokasi pukul 23.45 WIB, kami tiba di Area pos TNGHS (Taman Nasional Gunung Halimun Salak). Oh iya, digerbang bawah, kira-kira 3 kilometer sebelum Curug Cigamea, setiap kendaraan yang melintas di pungut biaya retribusi sebesar 7500/orang. Sebenarnya ini pungutan resmi, tapi sayang tidak didukung dengan berkas administrasi berupa tiket / karcis yg sesuai. Waktu itu oknum petugas yang kadang nakal, membulatkan retribusi menjadi 10.000/org (ini saya alami sendiri). Padahal yang tertera di karcis lebih kecil nominalnya.

Sambil berjalan pelan, kami sempat kebingungan mencari dimana letak pintu masuk Kawah Ratu. Setelah berjalan beberapa menit saat itu kami ternyata melewati Pintu Masuk PAsir Reungit Camp Area, Ada warga memberi tahu bahwa pintu masuk Kawah Ratu sudah terlewat. Saya lihat ke arah yang ditunjuk warga, ternyata memang terlewati. Warung-warung berjajar di kanan jalan hingga ke arah atas menuju pos perijinan. Kalau saja tadi saya tidak diberi tahu mungkin saya bisa bablas terus menuju gerbang Gunung Bunder dan kembali turun ke kota...hehe.

Setiba di area camp, tidak kita temukan sejenis Tempat Singgah atau Basecamp Singgah, kami putuskan untuk naik dan memilih lokasi untuk mendirikan tenda di area camp. Kilau cahaya matahari pagi malu malu menyinari sudut tenda hingga terbuka pelan mata ini, Ku lirik arlojiku, waktu menunjukkan jam 06.30 WIB, Selepas mendirikan tenda semalam, akumulasi rasa capek perjalanan jauh membuat kami cepat terlelap tidur, tak lama dari waktu kita bangun, datang Bapak-bapak hampiri kita dan membawa kertas sejenis karcis camping, Oh my good, jam segini udah ditarik aj... hehehhe, Kemarin mendirikan dua tenda bayar 100.000,-. Langsung kita bayar tanpa babibu karena kita sadar hanya berkunjung disini.

Sebelum menuju pos perijinan untuk mengurus simaksi TNGHS, kami kelarkan aktifitas pagi ( Mandi, Sarapan dkk) di warung terakhir dekat dengan Pos. Tiket Simaksi untuk masuk kawasan 3 Hari 2 Malam kami harus membayar Rp. 25.000/org/hari. Cukup kaget juga dengan besaran biaya tersebut saat itu, tapi tak apalah demi memenuhi hasrat merimba.

 


Briefing oleh petugas basecamp

Gapura Pendakian Salak via Pasir reungit

v  START PENDAKIAN MENUJU KE KAWAH RATU

Jalur menuju Kawah Ratu ini cukup jelas, ada petunjuk jalan yang dipasang. Tapi bila ingin memakai guide juga bisa, biayanya sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu. Dan Untuk biaya Porter sekitar 750 ribu.

Setelah selesai urusan administrasi dan foto-foto kami pun memulai perjalanan menyusuri setapak berbatu yang rindang. Jam saya menunjukkan tepat pukul 10.00 WIB. Cuaca cerah menyapa saat memulai perjalanan. Beberapa kali kami beristirahat. Kami mulai melangkah kan kaki menuju Kawah Ratu kembali, trek awal masih cukup landai dengan bebatuan yang telah disusun rapih. Kemudian kami mulai memasuki jalan yang mulai sempit dimana disisi kiri dan kanan jalan hutan mulai lebat. Kami terus melangkah cukup santai sampai akhirnya trek sudah mulai semakin licin dan mulai sulit untuk dipijak.

Sekali lagi ingat sampah dikantongi, dibawa pulang, jangan dibuang sembarangan. Hingga akhirnya perjalanan sampai di pos sumber air terakhir. Jadi di titik ini, sumber air terakhir yang bisa dipakai minum. Setelah itu akan masuk kawasan kawah mati, dengan air mengandung belerang. So, ingat pulihkan kembali stok air kalian ya.....

Awal pendakian

Sungai mata air terakhir sebelum Kawah

Sungai mata air terakhir sebelum Kawah

Airnya memang segar sekali bestie

Nyantai disini dulu

Kami berjalan dengan ritme sedang sambil menyesuaikan kondisi badan. Rimbunnya pepohonan dan gemericik suara air yang menemani sepanjang jalan membuat damai suasana. Jalur menuju Kawah Ratu dan Puncak Salak I melalui Pasir Reungit memang lebih panjang dan lebih ekstrim jika dibanding dengan jalur Cimelati ataupun Cidahu via Javanaspa. Tapi melimpahnya air  serta pemandangan yang indah membuat jalur ini cukup ramai di lintasi, utamanya saat musim pendakian.

Dengan berjalan santai atau sedang diperlukan waktu 3 - 4 jam untuk mencapai Kawah Ratu. Gunung Salak memang merupakan zona penyangga kehidupan masyarakat Bogor dan Sukabumi, air yang mengalir sepanjang tahun merupakan berkah tersendiri. Terlepas banyaknya cerita-cerita tragis dan mistis tentang pendakian digunung ini tetap saja tidak mengurangi minat para pendaki untuk mengunjunginya.

Waktu menunjukkan pukul 14.10 WIB saat kami tiba di awal area Kawah Ratu. Di tandai dengan banyaknya pohon mati seperti hutan mati Papandayan dan aliran sungai berwarna putih dan berbau khas belerang. Setelah melewati setapak kecil kami tiba di area lembah Kawah Ratu yang pertama, dikenal sebagai area Kawah Mati, luasnya sekitar 2-3 hektar. Di sebelah kiri terdapat sungai kecil berbatu yang airnya tidak bisa diminum, terdapat juga memorial monumen pendaki yang tewas disana.

Tidak berlama-lama, kami segera berjalan ke arah kanan, menyusuri jalur yang agak menanjak untuk menuju area kawah utama. Jarak antara area Kawah Mati dan area kawah utama kurang lebih 10-15 menit dengan kontur setapak berbatu berwarna putih diselingi hutan mati. Kami berhenti sejenak untuk berfoto-foto di awal area Kawah Ratu utama yang masih aktif. Siang menjelang sore, suasana ramai sekali oleh para turis lokal maupun manca yang sekedar berkunjung pulang sehari. Umumnya para pengunjung yang datang kesini bertujuan untuk mandi di sungai belerang yang terletak agak di tengah kawah atau melulur sekujur tubuhnya dengan belerang.

Padahal sebenarnya kegiatan semacam ini sangat riskan dan bisa mengundang musibah. Area utama Kawah Ratu ini masih aktif, dalam artian bukan riskan erupsi melainkan aktif mengeluarkan gas-gas beracun khas kawah yang tidak bisa di prediksi. Bergolaknya lumpur belerang di beberapa titik disertai suara menderu menandai bahwa papan peringatan di sekitar area bukanlah untuk menakut-nakuti pengunjung.

 

Kawah Mati

Kawah Mati

Kawah Ratu

Selfi dulu di kawah ratu

Selfi dulu di kawah ratu

Melewati sungai biru Kawah ratu


v  MENUJU HELIPAD

Setelah puas berfoto dan istirahat di area sungai biru dekat kawah, kami siap melintasi kawah. Tak lupa sesekali menutup hidung bisa dengan masker atau buff + air, saya selalu melakukan cara ini ketika akan melewati jalur-jalur yang berpotensi ada gas-gas berbahaya untuk meminimalisir keracunan. Diharapkan kain basah menjadi filter pertama dari kemungkinan gas beracun. Untuk melintasi Kawah Utama diperlukan waktu sekitar 15-20 menit. Yang perlu diperhatikan adalah sebaiknya tidak melintas kawah saat kabut sedang tebal atau pasca turun hujan, selain sangat berbahaya akibat jarak pandang terbatas juga gas-gas beracun berpotensi muncul.

Alhamdulillah kami semua melintas kawah dengan selamat. Setelah Kawah Ratu kami berjalan menyusuri hutan Pandan Cangkuang, salah satu tanaman yang menjadi ikon di Gunung Salak. Target kami adalah membuka tenda di pertigaan Bajuri. Sebelumnya kami bermusyawarah di pos pertama setelah Kawah Ratu akan membuka tenda dimana. Sempat kami akan membuka tenda di area Helipad. Pertimbangannya kami khawatir karena musim kemarau ini sumber air disekitar Bajuri kotor dan tidak layak konsumsi.

Dari Kawah Ratu, ambilah jalur menuju ke bawah arah Puncak Salak. Satu hal yang harus diperhatikan adalah jalur ini jarang sekali dilalui para pendaki. Jadi, kamu harus peka dengan petunjuk jalan yang sudah dipasang. Selanjutnya, kamu akan melalui aliran sungai dan tidak lama lagi kamu akan tiba di Pos Helipad.

Sebelum area Helipad, atau 30 menit lepas Kawah Ratu memang terdapat sungai dengan air berlimpah. Helipad sendiri terletak 15 menit diatas sungai tersebut dan merupakan sebuah lapangan luas tempat mendarat helikopter untuk mengevakuasi jika terjadi kecelakaan di area Salak I.

Helipad Setelah Kawah ratu

Lokasi Helipad

Lokasi Helipad

Menuju Helipad


 

v  PERJALANAN MENUJU POS CAMP BAJURI

Jalur menuju pertigaan Bajuri dari Helipad menurun dan berbatu. Jika cuaca cerah dan kita berdiri di tengah Helipad lalu membalikkan badan kita bisa melihat puncak Salak I di sebelah kanan. Setelah berjalan 30 menit dari Sungai kami pun tiba di pertigaan Bajuri. Pertigaan Bajuri merupakan titik pertemuan antara Jalur Pasir Reungit, Jalur Cidahu dan Jalur menuju Puncak Salak I. Area ini cukup luas dan terlindung, bisa untuk mendirikan 15-20 tenda

Waktu yang harus kamu tempuh kurang lebih 45 menit sampai 1 jam 15 menit dari Kawah Ratu. Disini kamu bisa istirahat mendirikan tenda sebelum menuju ke Pos Bajuri. Gunakan waktu istirahat yang cukup karena setelah ini perjalanan akan menjadi sulit untuk summit ke esokan harinya.

     Jam 17.00 WIB alhamdulillah tenda Pak Manji dan Bratboy83 sudah berdiri, didepan tenda kami juga ada tenda pendaki lain yang besoknya itu adalah menjadi partner mendaki summit kita hehehhe. Lokasi beristirahat kami sepanjang malam diguyur hujan sedang, namun tenda tetap aman bestie. Sepanjang malam suara hewan alam menemani lelapnya tidur kami.

Tugas Perbatasan

Ngobrol dengan Independent Hiker Indonesia

Ngobrol dengan Independent Hiker Indonesia

Plang Pertigaan Pos Bajuri

Gazebo/Shelter Pos Bajuri

Mendirikan tenda di area camp

Tenda kami

Tenda tetangga

 

v  PERJALANAN SUMMIT PUNCAK SALAK I

Pukul 06.30 WIB, Minggu, 28 September 2019, sesuai rencana kami semua sudah bangun dan bersiap untuk muncak. Tenda dan peralatan lain kami tinggal di Pos Bajuri. Kami hanya membawa daypack dan waistbag berisi keperluan logistik dan survival kit serta alat vlog juga nuh, hehehhehe

Jam 07.00 WIB kita start perjalanan dari Pos Bajuri menuju puncak bayangan. Dimana kamu akan melewati rawa-rawa, sehingga, menggunakan sepatu waterproof sangat disarankan. Menuju Puncak Bayangan kurang lebih 5 jam lamanya. Setelah pos bayangan, siapkan tenaga karena, menuju ke Puncak Manik kamu harus merangkak seperti spiderman. Sudut kemiringannya kurang dari 80 derajat sehingga, kamu harus mendaki menggunakan webbing seperti yang sudah disediakan.

Satu jam awal jalur masih cukup "bersahabat". Beberapa kali Jendral Yono terjatuh karena medan yang licin. Jalur menuju puncak Salak dalam kondisi kering sekalipun tetaplah licin dan menyulitkan. Didominasi tanah dan akar-akar. Sebelumnya dari basecamp hingga Bajuri di dominasi bebatuan dan aliran air. Oh iya Bajuri juga merupakan tempat sumber air terakhir.

Pukul 08.00 WIB matahari sudah bersinar terang membuat kami tidak begitu kedinginan. Jalur masih banyak bonus meskipun semakin sering mempertemukan lutut dengan perut. Satu setengah jam terakhir jalur semakin ekstrim, di beberapa titik tanjakan kami harus menggunakan webbing untuk bisa melintasinya.

Sekedar info, pada lintasan-lintasan yang sulit memang sudah terpasang webbing atau tali untuk memudahkan pendaki melewatinya. Alhamdulillah tepat pukul 13.30 WIB kami tiba dipuncak Manik, Salak I dengan selamat. Cuaca cerah berkabut, terkadang kabut tebal muncul,. Pepohonan di Puncak Salak I sekarang kondisinya sudah lebih terbuka, ku kira rimbun sekali. Sekarang pendaki bisa menikmati sunrise jika cuaca cerah. Makam mbah Salak juga sudah semakin rusak dan tidak terawat. Sesampainya di puncak pemandangan yang mengesankan bisa kamu nikmati. Mulai dari sunrise yang mengesankan pemandangan gunung Gede Pangrango, dan lautan kabut yang sangat cantik. Jangan sampai lupa bawa kamera dengan resolusi tinggi ya, agar semua keindahan ini bisa kamu abadikan. Di Puncak, area terbukanya cukup untuk mendirikan lebih dari 20 tenda. Meski sudah banyak sekali perubahan tetapi jalur dan area camp masih relatif bersih dari sampah. Semoga kondisi ini bisa lebih lama dipertahankan.

 

Tanda jarak disini pakai Plakat Pal-HM


Tanda jarak disini pakai Plakat Pal-HM


Jalan menggunakan webbing


Jendral Yono berjuang melewati tanjakan ekstrim

Bratboy83 berjuang melewati tanjakan ekstrim

Pak Manji berjuang melewati tanjakan ekstrim

Teman seperjalanan

Minuman legend kami

Tos di puncak Salak 1

Foto bareng dengan teman pendaki

Gede Pangrango di sebelah tenggara


Begonia untuk tanaman survival


v  KESIMPULAN

Total waktu tempuh menuju puncaknya versi kami dari BC Pasir Reungit lebih dari 10 jam. Kawan, Bawalah perbekalan seperlunya saja, dan sebisa mungkin dibagi secara merata. Karena, saat menuju ke Puncak Salak dengan sudut kemiringan 80 derajat membawa beban berat akan sangat sulit. Waktu penurunan kurang lebih 4 jam sampai 5 jam. jadi, sudah siap mendaki Gunung Salak? 
    Oiya, kawan kita turun lintas jalur Cidahu ya, jadi dari Camp Bajuri ambil kiri menuju jalur Cidahu.

 

kami turun lewat jalur Cidahu nih

v  INFORMASI

Hari Pendakian                                                     : 27-29 September 2019

1. BC Pasir Reungit - Kawah Ratu                      : 2 – 3 jam

2. Kawah Ratu - Helipad                                     : 30 - 50 menit

3. Helipad - Simpang Bajuri (Area Camp)         : 20 - 30 menit

4. Bajuri - Puncak Bayangan                             : 3 - 4 jam

5. Puncak Bayangan - Puncak Manik              : 1 - 1,5 jam


Player :

1. Sudut Tenda

2. Bratboy83

3. Jendral Yono Semoga Cerita ini memberi manfaat informasi, hiburan dan referensi. Salam Manji. Follow Instagram kami :

SUDUT TENDA https://www.instagram.com/sudut_tenda

Rabu, 24 Agustus 2022

Pendakian Gunung Lawu via Jalur Jogorogo (2019) - Tiga Pendaki Bodoh | Sudut Tenda


 Pendakian Gn. Lawu via Jalur Jogorogo (2019)

👉 Intro

        Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 Mdpl ternyata menjadi salah satu destinasi wisata alam yang sangat menantang para pendaki gunung. Nah, bagi Anda yang ingin melakukan pendakian ke gunung yang terletak di Perbatasan Propinsi ini bisa melewati jalur pendakian via Cemoro sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho, Tambak, Singolangu Namun jika ingin mencoba jalur klasik dari Ngawi tepat sekali karena kami akan membahas jalur ini yaitu jalur Jogorogo. Gunung yang cukup populer ini berada di antara 3 Kabupaten.

        Jalur lain yang dapat Anda gunakan menuju puncak gunung Lawu yaitu rute Gunung Lawu via Jogorogo. Perlu diketahui bahwa rute yang satu ini merupakan jalur yang sangat jarang digunakan pendaki. Mengapa demikian? hal tersebut disebabkan karena track perjalanan cukup berbahaya, ditambah dengan binatang buas. Nah, perlu kalian ketahui gerbang masuk jalur Jogorogo lokasinya terdapat di desa Girimulyo, Ngawi, Jawa Timur.

 

Rumah Bp. Hartoyo / Mbah Doyot

👉 Bagian 01 - Menuju Jogorogo

        Pak Manji (Sudut Tenda), Jendral Yono dan Bretboy83 Perkenalkan kami  adalah Tiga Pendaki Bodoh ingin melakukan perjalanan nekat. Berangkat/Start Hari Jumat 26 Juli 2019 dari Kota Sukoharjo jawa Tengah Pukul 17.00 WIB dengan kendaraan pribadi. Langsung ke Lokasi Jogorogo lewat Kota Sragen. Untuk menuju ke sini dengan bantuan Google Map, nyari aja ketik Pondok Pesanten Condromowo atau ketik SD Girimulyo sudah lengkap arahannya kak. Di sini tidak ada Basecamp pada umumnya pendakian ke gunung ya, hanya rumah warga saja. Karena memang belum resmi pada saat itu kami datang.


Bp. Hartoyo / Mbah Doyot

Pak Manji ( Sudut Tenda )
Jendral Yono
Bretboy83

Simulasi Memakai Kendaraan Umum:

Apabila memakai kendaraan umum kurang lebih seperti ini : Dari Arah kota mana saja, tujuan pertama terminal Ngawi ya bro. Sebelum terminal baru Ngawi tepatnya di perempatan arah Paron turun. Kemudian pindah bis kecil jurusan Ngawi-Simo lewat Jogorogo. Perjalanan sekitar 1 jam, ongkosnya kisaran 20rb. Sesampainya di Jogorogo, untuk menuju Desa Girimulyo menggunakan ojek, bisa cari di pertigaan Jogorogo tepat setelah turun dari bus. Ongkos menuju Girimulyo 25-30rb.

Sesampainya Desa Girimulyo (Pukul 21.00 WIB), dari perempatan dengan ditandai tugu, kita ambil jalan yang lurus ke arah gunung. Karena sudah malam, kami menginap di rumah Pak Hartoyo (Mbah Ndoyot), kebetulan disitu kami di sambut dengan hangat. Kami sampai rumah Mbah Doyot ngobrol ngobrol bentar sambil ngopi kopi asli Girimulyo kak. Jadi di desa tersebut perkebunannya kebun kopi sama tembakau, cocok banget buat kalian yang ahli hisap hehehe.. 

Kata Mbah Doyot, Lawu ini pintu utama nya lewat jogorogo ini, halaman depan istilahnya secara sejarah dulu pintu gerbang masuk lawu ini di pasar dieng, cuma orang orang khusus saja yang bisa melihat itu pintu gerbang, orang awam seperti kami gak bisa melihat. Oh….iya Desa Girimulyo juga dikenal banyak orang karena ada Air Terjun Srambang, letaknya dari perempatan tugu belok kiri. Mungkin bisa jadi alternatif wisata sebelum naek ke Lawu.


👉 Bagian 02 – PEMBAHASAN


01.  GIRIMULYO (810 mdpl)  - POS 1 UKIRBAYI (1250 mdpl)

Start dimulai pagi jam 07.00 WIB, Tak lupa kita sarapan, dirumah Mbah Doyot dengan menu  sederhana tapi nikmat sekali jamuannya.

Awal perjalanan berupa jalan makadam, cukup untuk dilewati 1 mobil, jalan yang berbelok-belok (mlipir) melewati kebun kebun warga yang didominasi kopi, pinus, ama tembakau. Buat ke ukir bayi ambil aja jalur yang jalan motor kak, jangan ngikutin jalan kecil kecil. Soalnya jalan kecil kecil itu jalan masuk ke kebun warga. Menurut cerita, pos ini dulu jaman kolonial sebagai tempat untuk memandikan bayi, makanya dinamakan ukirbayi, tepat di belakang pos ada bangunan kotak terbagi jadi 2 sekat. Namun ntah kenapa kita waktu itu tidak melewati ukir bayi, perjalanan kami tembus ke Pos Udal.

Sarapan dulu Sobat ...


Masih Semangat 45

Masih Semangat 45

Bertemu Penduduk Setempat

Bertemu Penduduk Setempat


Bertemu Petugas Perhutani dan di ijinkan tapi dengan himbauan khusus

02.  POS 1 UKIR BAYI (1250 mdpl) – POS 2 NGUDAL (UDAL UDAL)(1640mdpl)

Kita dari makadam tahunya sih jalan kok lama bener, tanda mendekati ngudal kita terobos sungai dulu baru sampai di lokasi Pos 2 ini sekitar jam 15.00 WIB, kira-kira dari Girimulyo butuh waktu perjalanan ± 8 jam. Di Pos ini kita temukan pertigaan ya, jika dari arah kami adalah dari Girimulyo langsung ke Ngudal ini, dan jalur lainnya  mungkin itu yang dari Ukir Bayi yang mana kita tidak melewatinya, Pos Udal-udal berada di tengah-tengah punggungan, berupa tanah datar tidak terlalu luas, sekarang sudah tidak ada lagi bangunannya. Jalur lumayan landai sedikit tanjakan dengan vegetasi rumput ilalang.  Ke ngudal melewati Punggungan Dorowati dan disitu ada sumber air gan berupa kali, tapi pas kami kesana kali nya gak ada airnya karena musim kemarau, di situ kita rehat agak lama setelah berjalan seharian, setelah cukup kita bergegas melanjutkan perjalanan ke Pos selanjutnya Bulak Akasia.


di kali sebelum ngudal, kering kerontang

Masih Bugar

Sampai kali sebelum udal

Agak terlihat lemes

Pos 2 Ngudal-udal

Di Pos 2 disambut kabut

Jangan lupa bahagia di situasi apapun

03.  POS 2 NGUDAL-UDAL (1640 mdpl) – POS 3 BULAK AKASIA (2030 mdpl)

Setelah pos Udal-udal jalanan semakin naik dengan kemiringan sekitar 45-60 derajat, melewati hutan dan ilalang, dengan jurang di sebelah kiri. Sekitar setengah jam, di sebelah kiri ada aliran sungai kecil, persediaan air bisa diisi di kali kecil ini. Jalur pendakian semakin ke atas tetap di samping kali kecil sampai ketemu air terjun kecil. setelah itu melewati alas mati, banyak pohon kering dan tumbang, jalanan juga tidak terlalu jelas. Di ujung alas mati baru ada dataran, warga desa menyebutnya Bulak Akasia, tempatnya tidak terlalu luas hanya cukup untuk istirahat, tidak bisa untuk camp tenda. Jarak tempuh pos Udal-Udal ke Bulak Akasia 1.5 km di tempuh selama 1.5 jam (jam 16.30 WIB).

 

Gasss menuju POS PENDEM, mulai gelap

 
Istirahat setelah dari Bulak Akasia, bisa didirikan 1 tenda kecil disini

Tebing Bulak Akasia

Ada sepatu tak bertuan

Perjalanan menuju Bulak Akasia


04.  POS 3 BULAK AKASIA (2030 mdpl) – POS 4 PENDEM ( 2170 mdpl )

Selanjutnya setelah pos Bulak Akasia, jam 17.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menanjak terus, sekira pukul 17.45 WIB kami temukan daerah lapang sedikit seperti area camp di antara POS 3 dan POS 4, Senja yang cepat pergi berganti gelap membuat kita memutuskan untuk sekalian istirahat disitu, makan bekal dan beribadah. Hawa dingin mulai menusuk tulang, membuat kami bertiga saling bertanya untuk melanjutkan  jalan, jam 18.30 WIB kita start meninggalkan area datar tadi , Cahaya Senter kepala dan ditambah senter genggam adalah satu-satunya sumber cahaya dalam menuntun langkah kaki kami, melewati Ondorante dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Kami sering istirahat sejenak kala kaki mulai bergetar dan nafas mulai tersengal-sengal, sampai di titik ini pembicaraan mulai berkurang dan lebih banyak diam memikirkan cara mengatasi kondisi masing-masing. Diantara kebisuan itu, terisi deru angin malam yang sepoi-sepoi menggebu.

Ada peristiwa unik yang kami bertiga alami, sekitar antara pukul 23.00 WIB sampai dengan 01.00 WIB dini hari, kami silih berganti berhalusinasi tentang area datar untuk mendirikan tenda, karena kondisi fisik telah berjalan dari pagi hingga hampir menuju pagi lagi belum bertemu lokasi area camp. Pucat pasi wajah kami tampak jelas, hingga di jam 00.30 WIB kita bertemu plakat POS 4 PENDEM, kepucatan itu agak terobati dengan asa bahwa area camp pasti sebentar lagi… Namun kita berjalan 30 menit dari plakat belum juga temukan area camp, pada akhirnya sekira jam 01.00 WIB kita menyerah dan menemukan pohon mati melintang, di situ kita istirahat sebisa mungkin, kondisi Jendral Yono dan Bretboy83 sudah kadung nempel bumi, akhirnya Pak manji inisiatif mendirikan flysheet diantara pohon melintang itu sekenanya saja. Tidak bias dikatakan nyenyak tapi Alhamdulillah bisa istirahat hingga fajar membangunkan kita.

Selesai sarapan mie rebus dan beres-beres, hari sudah berganti Minggu, jam 07.30 WIB kita melanjutkan perjalanan menuju JURANG MELE.

Ngeri ngeri sedap disini nih

Pos Pendem, sampai sini jam 00.30 WIB, ngeri nggak tuh...

Cemantol disini nih tadi malem

Area nginep kita bray...

Si ganteng aj ampe begini... 

Liat tuh si Jendral Yono lagi apa oe...

05.   POS 4 PENDEM (2170 mdpl) - JURANG MELE (2480mdpl)

Setelah itu jalanan semakin naik, tanjakan paling terjal di jalur ini, warga desa menyebutnya Jurang Mele. Karena angin yang kencang dan tenaga mulai habis, beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Jarak tempuh Pos Pendem ke Jurang Mele 600 meter ditempuh selama 1 jam 30 menit.

Setelah melewati Jurang Mele, baru bertemu dengan sabana, dan sampai di pos 5 trianggulasi pertemuan antara jalur Jogorogo-Ceto. Jarak tempuh Jurang Mele ke pos 5 sekitar 1 km ditempuh selama 1 jam 55 menit.

 

Ngaso dlu ah... setelah lewat jurang mele

Info dana kenakalan boskuhh?? ahhahah

Penting kesel, leren besstie...

06.  JURANG MELE (2480 mdpl) - BULAK PEPERANGAN (2860mdpl) – HARGO DALEM - PUNCAK

Karena masih pagi (jam 09.00 WIB), kami memutuskan lanjut Perjalanan melewati bulak peperangan dan bulak menjangan, lanjut ke hargo dalem. Sampe hargo dalem jam 13.00 WIB. Kita beristirahat di salah satu warung tapi bukan di Warung Mbok Yem, karena  weekend ruame banget disana. Setelah penat tubuh agak menghilang, kami bertiga muncak Hargo Dumilah, kita nikmati keindahan lawu dari Puncak ini, MasyaAlloh… begitu hebat dan dasyat semesta ciptaanMu …

Sempat di area bulak peperangan sampai puncak ada beberapa pendaki yang ngobrol dengan kami, mereka kaget bahkan tidak tahu kalau ada jalur lain ke gunung lawu selain yang mereka tahu. Dan waktu yang KAMI butuhkan juga fantastis, kami bertiga dengan segala kekurangan yang ada, selalu memakai keril lengkap sampai Hargo Dalem, pendakian ini dari Girimulyo sampai Top Puncak Hargo Dumilah kami menghabiskan 22 jam, sungguh pendakian nekat.

 

Ngaso di Bulak Peperangan bestie

AKhirnya ademm juga, jiwa raga setelah ketemu neng, hehehe

18 jam jalan baru nyampe sini bro...

Tuh dibawah lintas jalur dari Candi Cetho Pos 5


Ini pohon legend Pos 5 Candi Cetho

Sabana Gunung Lawu
Taman Edelweis Gunung Lawu

Pasar Dieng / Pasar Setan

Ritual di Pasar Dieng




👉 OUTRO

Setelah dari Puncak sekira jam 15.00 WIB kita beristirahat di area dekat warung Mbok Yem, kita diskusi untuk perjalanan turun apakah lewat Jogorogo lagi atau ada opsi lain. Mengingat kondisi fisik kami dan pengalaman betapa panjangnya jalur yang telah kita lalui, akhirnya Sepakat untuk turun lewat Cemoro Sewu.

Ada kejadian menarik dan unik ya, kita turun sampai dengan POS 2 Cemoro Sewu masih bersama, entah mengapa di tengah perjalanan turun menuju Pos di bawahnya kita bercerai berai, Bretboy83 duluan jauh didepan, Pak Manji ada di tengah-tengah selisih 30 menit dari depan dan Jendral Yono ada di belakang Pak Manji selisih 1 jam berjalan.

Yang seharusnya itu jangan sampai terjadi pada kalian ya, bagaimanapun perjalanan gelap lebih  berbahaya karena kita tidak tahu apa apa yang ada di sekitar kita yang tidak terjangkau sorot lampu.

Oke, finally kita berkumpul kembali di BC Sewu dengan selamat sekira pukul 20.00 WIB sudah lengkap bertiga tanpa ada kejadian yang merugikan.

Sampai sini kami akhiri cerita kami bertiga melakukan pendakian nekat ke Gunung Lawu via Jogorogo Ngawi.

Sobat Manji Tetaplah berkreasi, dan Salam MANJI… MANTAP JIWA…..

Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang tepat, Pembaca dimohon saran jika ada disinformasi, Kami manusia tempatnya salah dan kita dengan lapang dada menerimanya.