Pendakian Gn. Lawu via Jalur Jogorogo (2019)
👉 Intro
Gunung
Lawu dengan ketinggian 3.265 Mdpl ternyata menjadi salah satu destinasi wisata
alam yang sangat menantang para pendaki gunung. Nah, bagi Anda yang ingin
melakukan pendakian ke gunung yang terletak di Perbatasan Propinsi ini bisa
melewati jalur pendakian via Cemoro sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho, Tambak,
Singolangu Namun jika ingin mencoba jalur klasik dari Ngawi tepat sekali karena
kami akan membahas jalur ini yaitu jalur Jogorogo. Gunung yang cukup populer
ini berada di antara 3 Kabupaten.
Jalur
lain yang dapat Anda gunakan menuju puncak gunung Lawu yaitu rute Gunung Lawu
via Jogorogo. Perlu diketahui bahwa rute yang satu ini merupakan jalur yang
sangat jarang digunakan pendaki. Mengapa demikian? hal tersebut disebabkan karena
track perjalanan cukup berbahaya, ditambah dengan binatang buas. Nah, perlu
kalian ketahui gerbang masuk jalur Jogorogo lokasinya terdapat di desa Girimulyo,
Ngawi, Jawa Timur.
👉 Bagian 01 - Menuju Jogorogo
Pak Manji (Sudut Tenda), Jendral Yono dan Bretboy83 Perkenalkan kami adalah Tiga Pendaki Bodoh ingin melakukan perjalanan nekat. Berangkat/Start Hari Jumat 26 Juli 2019 dari Kota Sukoharjo jawa Tengah Pukul 17.00 WIB dengan kendaraan pribadi. Langsung ke Lokasi Jogorogo lewat Kota Sragen. Untuk menuju ke sini dengan bantuan Google Map, nyari aja ketik Pondok Pesanten Condromowo atau ketik SD Girimulyo sudah lengkap arahannya kak. Di sini tidak ada Basecamp pada umumnya pendakian ke gunung ya, hanya rumah warga saja. Karena memang belum resmi pada saat itu kami datang.
Simulasi Memakai Kendaraan Umum:
Apabila memakai kendaraan umum kurang lebih seperti ini : Dari Arah kota mana saja, tujuan pertama terminal Ngawi ya bro. Sebelum terminal baru Ngawi tepatnya di perempatan arah Paron turun. Kemudian pindah bis kecil jurusan Ngawi-Simo lewat Jogorogo. Perjalanan sekitar 1 jam, ongkosnya kisaran 20rb. Sesampainya di Jogorogo, untuk menuju Desa Girimulyo menggunakan ojek, bisa cari di pertigaan Jogorogo tepat setelah turun dari bus. Ongkos menuju Girimulyo 25-30rb.
Sesampainya
Desa Girimulyo (Pukul 21.00 WIB), dari perempatan dengan ditandai tugu, kita
ambil jalan yang lurus ke arah gunung. Karena sudah malam, kami menginap di
rumah Pak Hartoyo (Mbah Ndoyot), kebetulan disitu kami di sambut dengan hangat.
Kami sampai rumah Mbah Doyot ngobrol ngobrol bentar sambil ngopi kopi asli
Girimulyo kak. Jadi di desa tersebut perkebunannya kebun kopi sama tembakau,
cocok banget buat kalian yang ahli hisap hehehe..
Kata Mbah Doyot, Lawu ini pintu utama nya lewat jogorogo ini, halaman depan istilahnya secara sejarah dulu pintu gerbang masuk lawu ini di pasar dieng, cuma orang orang khusus saja yang bisa melihat itu pintu gerbang, orang awam seperti kami gak bisa melihat. Oh….iya Desa Girimulyo juga dikenal banyak orang karena ada Air Terjun Srambang, letaknya dari perempatan tugu belok kiri. Mungkin bisa jadi alternatif wisata sebelum naek ke Lawu.
👉 Bagian 02 – PEMBAHASAN
01.
GIRIMULYO (810 mdpl) - POS 1 UKIRBAYI (1250 mdpl)
Start dimulai pagi jam
07.00 WIB, Tak lupa kita sarapan, dirumah Mbah Doyot dengan menu sederhana tapi nikmat sekali jamuannya.
Awal perjalanan berupa
jalan makadam, cukup untuk dilewati 1 mobil, jalan yang berbelok-belok (mlipir)
melewati kebun kebun warga yang didominasi kopi, pinus, ama tembakau. Buat ke
ukir bayi ambil aja jalur yang jalan motor kak, jangan ngikutin jalan kecil
kecil. Soalnya jalan kecil kecil itu jalan masuk ke kebun warga. Menurut
cerita, pos ini dulu jaman kolonial sebagai tempat untuk memandikan bayi,
makanya dinamakan ukirbayi, tepat di belakang pos ada bangunan kotak terbagi
jadi 2 sekat. Namun ntah kenapa kita waktu itu tidak melewati ukir bayi, perjalanan
kami tembus ke Pos Udal.
![]() |
| Sarapan dulu Sobat ... |
![]() Masih Semangat 45 | ||||
|
![]() |
| Bertemu Penduduk Setempat |
![]() |
| Bertemu Petugas Perhutani dan di ijinkan tapi dengan himbauan khusus |
02. POS 1 UKIR BAYI (1250 mdpl) – POS 2 NGUDAL (UDAL UDAL)(1640mdpl)
Kita dari makadam tahunya sih jalan kok lama bener, tanda
mendekati ngudal kita terobos sungai dulu baru sampai di lokasi Pos 2 ini sekitar
jam 15.00 WIB, kira-kira dari Girimulyo butuh waktu perjalanan ± 8 jam. Di Pos
ini kita temukan pertigaan ya, jika dari arah kami adalah dari Girimulyo
langsung ke Ngudal ini, dan jalur lainnya
mungkin itu yang dari Ukir Bayi yang mana kita tidak melewatinya, Pos
Udal-udal berada di tengah-tengah punggungan, berupa tanah datar tidak terlalu
luas, sekarang sudah tidak ada lagi bangunannya. Jalur lumayan landai sedikit
tanjakan dengan vegetasi rumput ilalang. Ke ngudal melewati Punggungan
Dorowati dan disitu ada sumber air gan berupa kali, tapi pas kami kesana kali
nya gak ada airnya karena musim kemarau, di situ kita rehat agak lama setelah
berjalan seharian, setelah cukup kita bergegas melanjutkan perjalanan ke Pos
selanjutnya Bulak Akasia.
![]() |
| di kali sebelum ngudal, kering kerontang |
![]() |
| Masih Bugar |
![]() |
| Sampai kali sebelum udal |
![]() |
| Agak terlihat lemes |
![]() |
| Pos 2 Ngudal-udal |
![]() |
| Di Pos 2 disambut kabut |
![]() |
| Jangan lupa bahagia di situasi apapun |
03. POS 2 NGUDAL-UDAL (1640 mdpl) – POS 3 BULAK AKASIA (2030 mdpl)
Setelah pos Udal-udal jalanan semakin naik dengan kemiringan
sekitar 45-60 derajat, melewati hutan dan ilalang, dengan jurang di sebelah
kiri. Sekitar setengah jam, di sebelah kiri ada aliran sungai kecil, persediaan
air bisa diisi di kali kecil ini. Jalur pendakian semakin ke atas tetap di
samping kali kecil sampai ketemu air terjun kecil. setelah itu melewati alas mati,
banyak pohon kering dan tumbang, jalanan juga tidak terlalu jelas. Di ujung
alas mati baru ada dataran, warga desa menyebutnya Bulak Akasia, tempatnya
tidak terlalu luas hanya cukup untuk istirahat, tidak bisa untuk camp tenda.
Jarak tempuh pos Udal-Udal ke Bulak Akasia 1.5 km di tempuh selama 1.5 jam (jam
16.30 WIB).
![]() |
| Gasss menuju POS PENDEM, mulai gelap |
![]() |
| Istirahat setelah dari Bulak Akasia, bisa didirikan 1 tenda kecil disini |
![]() |
| Tebing Bulak Akasia |
![]() |
| Ada sepatu tak bertuan |
![]() |
| Perjalanan menuju Bulak Akasia |
04. POS 3 BULAK AKASIA (2030 mdpl) – POS 4 PENDEM ( 2170 mdpl )
Selanjutnya setelah pos Bulak Akasia, jam 17.00 WIB kami
melanjutkan perjalanan menanjak terus, sekira pukul 17.45 WIB kami temukan
daerah lapang sedikit seperti area camp di antara POS 3 dan POS 4, Senja yang
cepat pergi berganti gelap membuat kita memutuskan untuk sekalian istirahat
disitu, makan bekal dan beribadah. Hawa dingin mulai menusuk tulang, membuat
kami bertiga saling bertanya untuk melanjutkan
jalan, jam 18.30 WIB kita start meninggalkan area datar tadi , Cahaya
Senter kepala dan ditambah senter genggam adalah satu-satunya sumber cahaya
dalam menuntun langkah kaki kami, melewati Ondorante dengan kemiringan sekitar
60 derajat. Kami sering istirahat sejenak kala kaki mulai bergetar dan nafas
mulai tersengal-sengal, sampai di titik ini pembicaraan mulai berkurang dan
lebih banyak diam memikirkan cara mengatasi kondisi masing-masing. Diantara
kebisuan itu, terisi deru angin malam yang sepoi-sepoi menggebu.
Ada peristiwa unik yang kami bertiga alami, sekitar antara pukul
23.00 WIB sampai dengan 01.00 WIB dini hari, kami silih berganti berhalusinasi
tentang area datar untuk mendirikan tenda, karena kondisi fisik telah berjalan
dari pagi hingga hampir menuju pagi lagi belum bertemu lokasi area camp. Pucat
pasi wajah kami tampak jelas, hingga di jam 00.30 WIB kita bertemu plakat POS 4
PENDEM, kepucatan itu agak terobati dengan asa bahwa area camp pasti sebentar
lagi… Namun kita berjalan 30 menit dari plakat belum juga temukan area camp,
pada akhirnya sekira jam 01.00 WIB kita menyerah dan menemukan pohon mati
melintang, di situ kita istirahat sebisa mungkin, kondisi Jendral Yono dan
Bretboy83 sudah kadung nempel bumi, akhirnya Pak manji inisiatif mendirikan
flysheet diantara pohon melintang itu sekenanya saja. Tidak bias dikatakan
nyenyak tapi Alhamdulillah bisa istirahat hingga fajar membangunkan kita.
Selesai sarapan mie rebus dan beres-beres, hari sudah berganti Minggu, jam 07.30 WIB kita melanjutkan perjalanan menuju JURANG MELE.
![]() |
| Ngeri ngeri sedap disini nih |
![]() |
| Pos Pendem, sampai sini jam 00.30 WIB, ngeri nggak tuh... |
![]() |
| Cemantol disini nih tadi malem |
![]() |
| Area nginep kita bray... |
![]() |
| Si ganteng aj ampe begini... |
![]() |
| Liat tuh si Jendral Yono lagi apa oe... |
05. POS 4 PENDEM (2170 mdpl) - JURANG MELE (2480mdpl)
Setelah
itu jalanan semakin naik, tanjakan paling terjal di jalur ini, warga desa
menyebutnya Jurang Mele. Karena angin yang kencang dan tenaga mulai habis,
beberapa kali kami berhenti untuk istirahat. Jarak tempuh Pos Pendem ke Jurang
Mele 600 meter ditempuh selama 1 jam 30 menit.
Setelah
melewati Jurang Mele, baru bertemu dengan sabana, dan sampai di pos 5
trianggulasi pertemuan antara jalur Jogorogo-Ceto. Jarak tempuh Jurang Mele ke
pos 5 sekitar 1 km ditempuh selama 1 jam 55 menit.
![]() |
| Ngaso dlu ah... setelah lewat jurang mele |
![]() |
| Info dana kenakalan boskuhh?? ahhahah |
![]() |
| Penting kesel, leren besstie... |
06. JURANG MELE (2480 mdpl) - BULAK PEPERANGAN (2860mdpl) – HARGO
DALEM - PUNCAK
Karena masih pagi (jam 09.00 WIB), kami memutuskan lanjut
Perjalanan melewati bulak peperangan dan bulak menjangan, lanjut ke hargo
dalem. Sampe hargo dalem jam 13.00 WIB. Kita beristirahat di salah satu warung
tapi bukan di Warung Mbok Yem, karena
weekend ruame banget disana. Setelah penat tubuh agak menghilang, kami
bertiga muncak Hargo Dumilah, kita nikmati keindahan lawu dari Puncak ini,
MasyaAlloh… begitu hebat dan dasyat semesta ciptaanMu …
Sempat di area bulak peperangan sampai puncak ada beberapa
pendaki yang ngobrol dengan kami, mereka kaget bahkan tidak tahu kalau ada
jalur lain ke gunung lawu selain yang mereka tahu. Dan waktu yang KAMI butuhkan
juga fantastis, kami bertiga dengan segala kekurangan yang ada, selalu memakai
keril lengkap sampai Hargo Dalem, pendakian ini dari Girimulyo sampai Top
Puncak Hargo Dumilah kami menghabiskan 22 jam, sungguh pendakian nekat.
![]() |
| Ngaso di Bulak Peperangan bestie |
![]() |
| AKhirnya ademm juga, jiwa raga setelah ketemu neng, hehehe |
![]() |
| 18 jam jalan baru nyampe sini bro... |
![]() |
| Tuh dibawah lintas jalur dari Candi Cetho Pos 5 |
![]() |
| Ini pohon legend Pos 5 Candi Cetho |
![]() |
| Sabana Gunung Lawu |
![]() |
| Taman Edelweis Gunung Lawu |
![]() |
| Pasar Dieng / Pasar Setan |
![]() |
| Ritual di Pasar Dieng |
👉 OUTRO
Setelah dari Puncak sekira jam 15.00
WIB kita beristirahat di area dekat warung Mbok Yem, kita diskusi untuk
perjalanan turun apakah lewat Jogorogo lagi atau ada opsi lain. Mengingat
kondisi fisik kami dan pengalaman betapa panjangnya jalur yang telah kita
lalui, akhirnya Sepakat untuk turun lewat Cemoro Sewu.
Ada kejadian menarik dan unik ya, kita
turun sampai dengan POS 2 Cemoro Sewu masih bersama, entah mengapa di tengah
perjalanan turun menuju Pos di bawahnya kita bercerai berai, Bretboy83 duluan
jauh didepan, Pak Manji ada di tengah-tengah selisih 30 menit dari depan dan
Jendral Yono ada di belakang Pak Manji selisih 1 jam berjalan.
Yang seharusnya itu jangan sampai
terjadi pada kalian ya, bagaimanapun perjalanan gelap lebih berbahaya karena kita tidak tahu apa apa yang
ada di sekitar kita yang tidak terjangkau sorot lampu.
Oke, finally kita berkumpul kembali di
BC Sewu dengan selamat sekira pukul 20.00 WIB sudah lengkap bertiga tanpa ada
kejadian yang merugikan.
Sampai sini kami akhiri cerita kami bertiga
melakukan pendakian nekat ke Gunung Lawu via Jogorogo Ngawi.
Sobat Manji Tetaplah berkreasi, dan
Salam MANJI… MANTAP JIWA…..
Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang tepat, Pembaca dimohon saran jika ada disinformasi, Kami manusia tempatnya salah dan kita dengan lapang dada menerimanya.
PERHATIAN :
BUAT KALIAN YANG MAU NAIK LEWAT SINI DI MUSIM KEMARAU WAJIB BAWA AIR CUKUP YA GAN, SILAHKAN BERTANYA PADA WARGA BERAPA TAKARAN AIR YANG TEPAT, SOALNYA SUMBER AIR DI JALUR JOGOROGO BERUPA KALI, KALU MUSIM KEMARAU KALI DISINI KERING, SAYA SEMPAT NYUSURI KALI SAMPAI KE HULU MEMANG GAK NGALIR DARI ATAS.

















































Tidak ada komentar:
Posting Komentar